dari blog mas ardhiyanto..
Banyak yang mau berubah, tapi memilih jalan mundur. Andakah orangnya? (Taken From Kuliah Online WISATA HATI)
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tertidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya: "Nanti di depan ke kiri
ya".
"Masih banyak, Pak Ustadz". Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin.
Padahal bukan. Saya pengen pipis. Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang
sekuriti. "PakUstadz!". Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.
"Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…". Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
"Saya ke toilet dulu ya".
"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"
"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"
"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya. Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom bensin.
Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi" dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya. Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet ya".
***
"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya membuka percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini.
Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.
"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"
"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu. Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya".
"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".
Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah. Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.
"Udah shalat ashar?"
"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga? Ya saya pikir sama saja".
"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?"
Sekuriti itu senyum aja.
Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah. Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita.
Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh sebutan-sebutan ibadah.
"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5 nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.
"Ya, kurang lebih dah".
Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang 'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut perhatian sama Yang Memberi
Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu
kan jadi sama saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh, sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka
berapa jarak ketertinggalan kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu
baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja mestinya kita dari
senang".
Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu. Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya, nampaknya ia paham.
Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya, maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha, sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanya an seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat dengan fakta.
Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, "Terus, mau berubah?"
"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?"
"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".
"Ngebut gimana?"
"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya. Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah. Jangan sampe keduluan
Allah".
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan aneh. Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih, wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah,
amit-amit pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
"Yang kedua," saya teruskan. "Yang kedua, keluarin sedekahnya".
Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. "Pak Ustadz, pegimana mau sedekah, hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan".
"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"
"Satu koma tujuh, Pak ustadz".
"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang sering sebut orang kecil, itu udah gede".
"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".
"Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?"
"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".
"Koq bisa?"
"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe ketemu angka 1,7jt".
"Terus, kenapa masih kurang?"
"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".
"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan ga perlu?"
"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".
"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot".
Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu. Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik. Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.
"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"
"Mau Ustadz. Saya benahin dah".
"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan semuanya ngebenahin shalat".
"Siap ustadz".
"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".
"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".
"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".
"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya".
Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal itu mah. Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti,
"Kang, kalo saya unjukin bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?". Si sekuriti mengangguk. "Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?". Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan jalanin," katanya, manteb.
"Gajian bulan depan masih ada ga?"
"Masih. Kan belum bisa diambil?"
"Bisa. Dicoba dulu".
"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"
"Yakin ga sama Allah?"
"Yakin".
"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya. Termasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al Qur'an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum'at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia
aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita
barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan tingginya harga,. Ga kebagian.
***
Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu koma tujuh. Semuanya. "Mana bisa?" kata komandannya.
"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani".
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.
Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama ownernya ini pom bensin.. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan 30% aja belum tentu lolos
cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui. Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya Pak", begitu kata komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan saya, menjadi kisah yang> dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh bos nya.
"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah melalui jalan shalat dan sedekah.
Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya. Bos nya yang mengetahui
hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan
kerjaannya.. Malah tambah cerah muka nya.
Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal diam. Dan barangkali
akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si sekuriti.
Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia gagal. Sebab buat apa
sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka, kalau kemudian kas bon. Percuma".
Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah? Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.
"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian. Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si sekuriti ini
benar-benar bikin bengong orang pada. Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya di bulan depan yang dia pertaruhkan, terjadi keajaiban. Di kampung, ada transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga terlibat
secara fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya, dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia sedekah 1,7jt
gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu terjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti bulan. Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor, kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta.
Tapi dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia aman. Ga perlu kasbon.
Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama 1 bulan setengah ini.
Apakah cukup sampe di situ perubahan yang terjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang lain, dan dijadikan
staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya Allah. Berubah, berubah, berubah.
Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman seseorang kepada Allah,
Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan! Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru sedikit mengenal Allah. Tapi
lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya, buat perubahan hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah. Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini
berhasil keluar sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak suksesnya si
sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia. Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.
Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah? Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di ana pom bensinnya? Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya
lagi memilih menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang menempatkan dirinya untuk menjadi contoh. Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak, sudah, jangan "Dan pada sebagian malam bertahajjudlah dengannya sebagai tambahan bagimu.Mudah- mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji". (Al Isra': 79
Jumat, 26 Desember 2008
Rabu, 24 Desember 2008
Senin, 08 Desember 2008
Kita Harus Menang!!
Karena kecintaan kami terhadap Indonesia... (ceileee...)
saya, istri, dan adik ipar (adiknya istri) menyaksikan laga Indonesia vs Kamboja
nonton yang pasti2 menang aja..
klo lawannya singapura atau thailand nanti dulu deh hahahahaha
kiddin..
sesuai slogan the Jak.. Kita Harus Menang!!!!
padahal slogannya salah ya..
harusnya Kita Harus Berjuang Maksimal..
mau menang mau kalah mah itu urusan nanti :)


saya, istri, dan adik ipar (adiknya istri) menyaksikan laga Indonesia vs Kamboja
nonton yang pasti2 menang aja..
klo lawannya singapura atau thailand nanti dulu deh hahahahaha
kiddin..
sesuai slogan the Jak.. Kita Harus Menang!!!!
padahal slogannya salah ya..
harusnya Kita Harus Berjuang Maksimal..
mau menang mau kalah mah itu urusan nanti :)
Jumat, 28 November 2008
Trip to Sukabumi
Selasa, 25 November 2008
Berani karena benar
Lagi2 ini tulisan untuk anak cucu hehe
jgn pada baca ya..
warning : narsis content
seharian lagi pusing ngedidik ponakan yg mentalnya penakut. Umur 3thn, ada bunyi petir dia takut, ada pantomim dia nangis dsb..
15 tahun yang lalu, alkisah ada seorang pemuda, duduk di kelas 4 sekolah dasar (halah itu mah bukan pemuda yak hehe). Beberapa perguruan silat udh diikuti. Bullying/senioritas udah menjadi makanan sehari2. temen2 sekelas itu biasa dimintain duit sama senior, bukan cuma itu, kepala ditoyor2 (hahaha) sampe ada juga yg dipukulin
tibalah giliran sang pemuda pulang sekolah, dimintain duit, sang pemuda menolak (padahal emg ga pny duit hehe) lah trus tiba2 si senior mukul (kira2 ada 4 orang senior), dan langsung jalan meninggalkan si pemuda. Dikiranya sang pemuda tinggal diam.
Dug! punggung sang senior terhantam sebuah batu yg lumayan besar. ya ia ditimpuk. ia pun menoleh ke belakang. Dengan sikap tenang si pemuda mengatakan, "klo emang mau berantem, kesini lah! jangan main pergi aja!"
saat itu si pemuda sedang berdua bersama temannya. Tentu saja teman sang pemuda itu langsung pucat wajahnya ketakutan. Para senior itu pun takut, meninggalkan kami..
hmmm... si pemuda ini kok pede bgt ya..
mari kita ikuti keseharian pemuda..
terlihat sebuah perguruan silat sedang mengadakan latihan rutin. dan terlihat juga sedang ada latih tanding. wah tidak imbang sekali, seorang anak kecil sedang sparing dengan orang2 yg usianya diatasnya, kira2 pelajar SLTP tingkat akhir.
mari kita amati dari dekat..
ternyata pelajar2 SLTP itu adalah pelajar2 nakal yg suka memalak dan menjadi preman di wilayah situ..
dan kita amati lebih dekat..
ternyata para pelajar SLTP tidak pernah berhasil melancarkan satu jurus pun kepada anak kecil itu. Dan anak kecil itu selalu memenangi pertandingan dengan skor telak.
dan kita amati lebih dekat lagi...
ternyata si anak kecil adalah si pemuda yang kita ceritakan sebelumnya itu..
kekuatan si anak kecil ini sudah menjadi buah bibir, saat itu ia sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar.
Pada suatu hari ia mendapat cerita bahwa tetangganya yang juga temannya yang seorang perempuan, baru saja dilecehkan oleh anak2 komplek seberang. tentu saja teman2 si anak ini berang dan emosi. Tapi si pemuda ini bisa berpikir bijak, dan mengajak beberapa temannya untuk ke komplek seberang dan meminta pertanggungjawaban sang pelaku pelecehan.
Anak2 komplek seberang malah tersinggung, dan declare a war (wedeh keren ga tuh). mereka merencanakan penyerangan ke komplek si pemuda itu. Oiya, prajurit perang ini tingkatannya beragam, dari mulai kelas 6SD sampai ada yg SMA juga loh..
Akhirnya hari yg ditunggu2 tiba, ya mereka menyerang komplek si pemuda. Sekitar 30 orang. Tapi ada hal yang perlu kita saluti, mereka tawuran tidak pernah pake senjata. Apalagi timpuk2an batu. benar2 berkelahi secara fisik.
makanya klo liat tawuran jaman sekarang suka miris, kok ya pada cemen amat ya pake batu timpuk2an, ya face to face lah... (hehehe harusnya kan mirisnya karena tawurannya ya :P )
sang pemuda ini bijak, memimpin "pasukan"nya yang lebih tua darinya dan tetap memberikan himbauan dulu kepada pihak "musuh" bahwa kita bisa berunding, tapi justru dijawab dengan serangan2 fisik. Dan "pertempuran" pun tidak bisa di elakkan..
hasilnya? ya namanya orang tawuran mah ga ada menang kalah. tapi sang pemuda ini makin kesohor, karena kemampuannya bisa menghadapi beberapa lawan sendirian. Bahkan pernah suatu saat ia dijebak untuk diajak negosiasi oleh "musuh" namun ternyata dihadapi sebuah pengeroyokan oleh 4 orang musuhnya. Tetap, dia tidak kalah..
akhirnya si pemuda ini menginjakan kakinya di bangku SLTP. Sekolah barunya jauh, sekitar 13km. 2 kali naik angkot dari rumahnya..
di sekolah barunya, karena badannya yg kecil dan sikapnya yang pendiam, membuat ia sekali lagi menjadi korban bullying. Tapi kali ini bukan oleh seniornya melainkan justru oleh teman2nya yg seangkatan..
tiap hari mendapat cemoohan
"banci!"
"bencong!"
"anak cewe!"
si pemuda tidak menggubris, dibiarkan saja. Genk pencemooh badannya besar2 dan tinggi2, salah satunya menggunakan kacamata. kontras memang sama si bocah ini yang kurus dan kecil. Hampir dua bulan penuh ia mendapat cacian seperti itu. Tapi ia biarkan saja
sampai akhirnya ia di olok2 ttg orangtuanya. Ga pake banyak omong, ia langsung menghentikan langkahnya dan menghampiri si pengolok-olok..
"Blegem!"
dihajar wajah sang pengolok oleh sang pemuda hingga kacamatanya luluh lantah..
jauh diluar dugaan, ternyata sang pengolok yang badannya tinggi besar itu menangis dengan keras, karena takut dimarahi orangtuanya akibat kacamata pecah..
makanya jgn belagu bang... hehehe
berakhirlah masa pengolok2annya di SLTP. namun sang pemuda tetaplah dirinya yang dulu, tidak banyak tingkah dan banyak omong. Selama ga ada yang ganggu, dia juga ga suka jadi pengganggu..
tapi belum berakhir di jalanan..
karena perjalanan rumah ke SLTP nya berjarak 13km, beberapa kali si pemuda ini dipalak preman2 ataupun anak2 SMA
bagaimana ia menghadapi pemalakan di jalan?
nantikan kisah selanjutnya...
jgn pada baca ya..
warning : narsis content
seharian lagi pusing ngedidik ponakan yg mentalnya penakut. Umur 3thn, ada bunyi petir dia takut, ada pantomim dia nangis dsb..
15 tahun yang lalu, alkisah ada seorang pemuda, duduk di kelas 4 sekolah dasar (halah itu mah bukan pemuda yak hehe). Beberapa perguruan silat udh diikuti. Bullying/senioritas udah menjadi makanan sehari2. temen2 sekelas itu biasa dimintain duit sama senior, bukan cuma itu, kepala ditoyor2 (hahaha) sampe ada juga yg dipukulin
tibalah giliran sang pemuda pulang sekolah, dimintain duit, sang pemuda menolak (padahal emg ga pny duit hehe) lah trus tiba2 si senior mukul (kira2 ada 4 orang senior), dan langsung jalan meninggalkan si pemuda. Dikiranya sang pemuda tinggal diam.
Dug! punggung sang senior terhantam sebuah batu yg lumayan besar. ya ia ditimpuk. ia pun menoleh ke belakang. Dengan sikap tenang si pemuda mengatakan, "klo emang mau berantem, kesini lah! jangan main pergi aja!"
saat itu si pemuda sedang berdua bersama temannya. Tentu saja teman sang pemuda itu langsung pucat wajahnya ketakutan. Para senior itu pun takut, meninggalkan kami..
hmmm... si pemuda ini kok pede bgt ya..
mari kita ikuti keseharian pemuda..
terlihat sebuah perguruan silat sedang mengadakan latihan rutin. dan terlihat juga sedang ada latih tanding. wah tidak imbang sekali, seorang anak kecil sedang sparing dengan orang2 yg usianya diatasnya, kira2 pelajar SLTP tingkat akhir.
mari kita amati dari dekat..
ternyata pelajar2 SLTP itu adalah pelajar2 nakal yg suka memalak dan menjadi preman di wilayah situ..
dan kita amati lebih dekat..
ternyata para pelajar SLTP tidak pernah berhasil melancarkan satu jurus pun kepada anak kecil itu. Dan anak kecil itu selalu memenangi pertandingan dengan skor telak.
dan kita amati lebih dekat lagi...
ternyata si anak kecil adalah si pemuda yang kita ceritakan sebelumnya itu..
kekuatan si anak kecil ini sudah menjadi buah bibir, saat itu ia sudah duduk di kelas 6 sekolah dasar.
Pada suatu hari ia mendapat cerita bahwa tetangganya yang juga temannya yang seorang perempuan, baru saja dilecehkan oleh anak2 komplek seberang. tentu saja teman2 si anak ini berang dan emosi. Tapi si pemuda ini bisa berpikir bijak, dan mengajak beberapa temannya untuk ke komplek seberang dan meminta pertanggungjawaban sang pelaku pelecehan.
Anak2 komplek seberang malah tersinggung, dan declare a war (wedeh keren ga tuh). mereka merencanakan penyerangan ke komplek si pemuda itu. Oiya, prajurit perang ini tingkatannya beragam, dari mulai kelas 6SD sampai ada yg SMA juga loh..
Akhirnya hari yg ditunggu2 tiba, ya mereka menyerang komplek si pemuda. Sekitar 30 orang. Tapi ada hal yang perlu kita saluti, mereka tawuran tidak pernah pake senjata. Apalagi timpuk2an batu. benar2 berkelahi secara fisik.
makanya klo liat tawuran jaman sekarang suka miris, kok ya pada cemen amat ya pake batu timpuk2an, ya face to face lah... (hehehe harusnya kan mirisnya karena tawurannya ya :P )
sang pemuda ini bijak, memimpin "pasukan"nya yang lebih tua darinya dan tetap memberikan himbauan dulu kepada pihak "musuh" bahwa kita bisa berunding, tapi justru dijawab dengan serangan2 fisik. Dan "pertempuran" pun tidak bisa di elakkan..
hasilnya? ya namanya orang tawuran mah ga ada menang kalah. tapi sang pemuda ini makin kesohor, karena kemampuannya bisa menghadapi beberapa lawan sendirian. Bahkan pernah suatu saat ia dijebak untuk diajak negosiasi oleh "musuh" namun ternyata dihadapi sebuah pengeroyokan oleh 4 orang musuhnya. Tetap, dia tidak kalah..
akhirnya si pemuda ini menginjakan kakinya di bangku SLTP. Sekolah barunya jauh, sekitar 13km. 2 kali naik angkot dari rumahnya..
di sekolah barunya, karena badannya yg kecil dan sikapnya yang pendiam, membuat ia sekali lagi menjadi korban bullying. Tapi kali ini bukan oleh seniornya melainkan justru oleh teman2nya yg seangkatan..
tiap hari mendapat cemoohan
"banci!"
"bencong!"
"anak cewe!"
si pemuda tidak menggubris, dibiarkan saja. Genk pencemooh badannya besar2 dan tinggi2, salah satunya menggunakan kacamata. kontras memang sama si bocah ini yang kurus dan kecil. Hampir dua bulan penuh ia mendapat cacian seperti itu. Tapi ia biarkan saja
sampai akhirnya ia di olok2 ttg orangtuanya. Ga pake banyak omong, ia langsung menghentikan langkahnya dan menghampiri si pengolok-olok..
"Blegem!"
dihajar wajah sang pengolok oleh sang pemuda hingga kacamatanya luluh lantah..
jauh diluar dugaan, ternyata sang pengolok yang badannya tinggi besar itu menangis dengan keras, karena takut dimarahi orangtuanya akibat kacamata pecah..
makanya jgn belagu bang... hehehe
berakhirlah masa pengolok2annya di SLTP. namun sang pemuda tetaplah dirinya yang dulu, tidak banyak tingkah dan banyak omong. Selama ga ada yang ganggu, dia juga ga suka jadi pengganggu..
tapi belum berakhir di jalanan..
karena perjalanan rumah ke SLTP nya berjarak 13km, beberapa kali si pemuda ini dipalak preman2 ataupun anak2 SMA
bagaimana ia menghadapi pemalakan di jalan?
nantikan kisah selanjutnya...
Rabu, 19 November 2008
Haaahh.. kamu ga bisa bayar qurban??
dapet dari pak aries di sebuah milis
Entah dinyana darimana..
Tiba-tiba saja muncul sebuah sosok yang datang menghampiri si Budi yang langsung bertanya, “Budi, apakah kamu tahun ini ikut memberikan qurban pada Idul Adha nanti?”
Dengan terbata-bata si Budi menjawab, “Soriii.. kayaknya tahun ini nggak bisa.. gua nggak punya duit buat bayar qurban..”
“Haahhh.. kamu nggak bisa bayar qurban?” tiba-tiba saja sosok putih melayang di depan si Budi mendadak menjadi sangar dan terlihat begitu besar.
“Beneran.. gua nggak punya duit.. by the way.. loe siapa ya?” sergah si Budi yang menjadi ketakutan melihat sosok putih itu menjadi sangar dan terlihat begitu besar di hadapannya.
“Saya Malaikat Maut! Saya akan cabut ruh kamu seketika saat perintah eksekusimu ditetapkan oleh-Nya!” bentak sosok putih tersebut yang mengaku sebagai Malaikat Maut.
“Waduh.. plisss.. gua masih belum turun kan perintah eksekusinya?” tanya si Budi yang semakin ketakutan.
“Itu tidak penting! Sekarang jawab dulu mengapa kamu nggak bisa bayar qurban tahun ini!” sergah Sang Malaikat Maut.
“Wah.. repot nih.. gaji gua nggak cukuplah buat bayar qurban..” balas si Budi.
“APAA?? Gaji kamu yang sejuta sebulan itu nggak cukup buat bayar qurban?”
“Kamu merokok saja sehari habis sebungkus.. berarti sebulan habis sekitar 180 ribu.. berarti setahun kamu sudah membuang uang yang diamanatkan oleh Alloh SWT sekitar 2 juta rupiah!!!”
“Padahal harga seekor kambing di sebuah lembaga amil zakat saja hanya 850 ribu rupiah! Masih berani kamu ngomong nggak punya uang buat bayar qurban?!!??”
“Hanya menyisihkan setengah dari harta yang dimubazirkan saja kamu tidak mau??!!??”
“Kamu ini benar-benar keterlaluan!!!”
Si Budi semakin ketakutan melihat Malaikat Maut murka terhadap ketololannya.
“Tapi gimana nih.. gua kan bentar lagi mau mati.. gimana mau bayar qurban..” celetuk si Budi mencoba mencari dalih.
“Siapa bilang kamu akan mati sekarang? Untung Alloh SWT belum memberi perintah pencabutan nyawa kamu! Ayo sekarang segera bangun dari mimpi kamu dan tunaikanlah qurban kamu tahun ini!” sergah Sang Malaikat Maut.
Tiba-tiba saja si Budi terbangun dari tidurnya dan bisa bernafas lega karena ternyata kejadian tadi hanya mimpi.
Apakah si Budi akan membayar qurban tahun ini?
Entahlah.. karena ternyata saat ini pun saat terbangun dari tidurnya dia membakar sebatang rokok dan menghisapnya
Entah dinyana darimana..
Tiba-tiba saja muncul sebuah sosok yang datang menghampiri si Budi yang langsung bertanya, “Budi, apakah kamu tahun ini ikut memberikan qurban pada Idul Adha nanti?”
Dengan terbata-bata si Budi menjawab, “Soriii.. kayaknya tahun ini nggak bisa.. gua nggak punya duit buat bayar qurban..”
“Haahhh.. kamu nggak bisa bayar qurban?” tiba-tiba saja sosok putih melayang di depan si Budi mendadak menjadi sangar dan terlihat begitu besar.
“Beneran.. gua nggak punya duit.. by the way.. loe siapa ya?” sergah si Budi yang menjadi ketakutan melihat sosok putih itu menjadi sangar dan terlihat begitu besar di hadapannya.
“Saya Malaikat Maut! Saya akan cabut ruh kamu seketika saat perintah eksekusimu ditetapkan oleh-Nya!” bentak sosok putih tersebut yang mengaku sebagai Malaikat Maut.
“Waduh.. plisss.. gua masih belum turun kan perintah eksekusinya?” tanya si Budi yang semakin ketakutan.
“Itu tidak penting! Sekarang jawab dulu mengapa kamu nggak bisa bayar qurban tahun ini!” sergah Sang Malaikat Maut.
“Wah.. repot nih.. gaji gua nggak cukuplah buat bayar qurban..” balas si Budi.
“APAA?? Gaji kamu yang sejuta sebulan itu nggak cukup buat bayar qurban?”
“Kamu merokok saja sehari habis sebungkus.. berarti sebulan habis sekitar 180 ribu.. berarti setahun kamu sudah membuang uang yang diamanatkan oleh Alloh SWT sekitar 2 juta rupiah!!!”
“Padahal harga seekor kambing di sebuah lembaga amil zakat saja hanya 850 ribu rupiah! Masih berani kamu ngomong nggak punya uang buat bayar qurban?!!??”
“Hanya menyisihkan setengah dari harta yang dimubazirkan saja kamu tidak mau??!!??”
“Kamu ini benar-benar keterlaluan!!!”
Si Budi semakin ketakutan melihat Malaikat Maut murka terhadap ketololannya.
“Tapi gimana nih.. gua kan bentar lagi mau mati.. gimana mau bayar qurban..” celetuk si Budi mencoba mencari dalih.
“Siapa bilang kamu akan mati sekarang? Untung Alloh SWT belum memberi perintah pencabutan nyawa kamu! Ayo sekarang segera bangun dari mimpi kamu dan tunaikanlah qurban kamu tahun ini!” sergah Sang Malaikat Maut.
Tiba-tiba saja si Budi terbangun dari tidurnya dan bisa bernafas lega karena ternyata kejadian tadi hanya mimpi.
Apakah si Budi akan membayar qurban tahun ini?
Entahlah.. karena ternyata saat ini pun saat terbangun dari tidurnya dia membakar sebatang rokok dan menghisapnya
Selasa, 18 November 2008
Amanah itu ..
amanah itu jujur, tidak berdusta
amanah itu menepati janji
amanah itu tidak berkhianat
amanah itu professional
amanah itu ahli
amanah itu ketika kita berada di posisi yang sesuai keahlian kita
amanah itu bukan hanya tidak korupsi
amanah itu bukan hanya perkara nilep duit
amanah itu unik, karena
amanah itu kadang tidak bergantung dari banyaknya ibadah orang
amanah itu juga tidak bergantung dari banyaknya sesumbar
amanah itu barang fragile, karena
amanah itu susah untuk dibangun tapi mudah sekali dihancurkan
amanah itu sebuah kedamaian
amanah itu sebuah persaudaraan
amanah itu sebuah kepercayaan
amanah itu.... harus dijaga!
amanah itu menepati janji
amanah itu tidak berkhianat
amanah itu professional
amanah itu ahli
amanah itu ketika kita berada di posisi yang sesuai keahlian kita
amanah itu bukan hanya tidak korupsi
amanah itu bukan hanya perkara nilep duit
amanah itu unik, karena
amanah itu kadang tidak bergantung dari banyaknya ibadah orang
amanah itu juga tidak bergantung dari banyaknya sesumbar
amanah itu barang fragile, karena
amanah itu susah untuk dibangun tapi mudah sekali dihancurkan
amanah itu sebuah kedamaian
amanah itu sebuah persaudaraan
amanah itu sebuah kepercayaan
amanah itu.... harus dijaga!
Langganan:
Postingan (Atom)