Jumat, 12 Juni 2015

Berbisnis di era baru

Ada dua hal perubahan yang paling mendasar dalam hal bisnis akhir-akhir ini. Tentunya dua faktor ini sangat mempengaruhi keberlangsungan dari bisnis di era sekarang

Pertama saya melihatnya sebagai gejala long tail yang masif.
Di era sekarang, korporasi-korporasi besar sepertinya sedang menunggu kehancuran. Digerogoti para pemula yang masih kecil, dengan bisnis niche yang lebih spesifik. Cuma ada dua pilihan untuk korporasi besar : monopoli sekalian seperti Google atau Facebook, atau memilih core dan segmentasi yang lebih spesifik dan fokus (konsekuensinya ya restrukturisasi dan hal gak enak lainnya)

Long tail ini rada edan. Entah karena banyak yang sedang survival mode, atau karena keinginan yang tak terbatas, membuat orang-orang rela melakukan apa saja untuk berbisnis. Di daerah condet, ada rumah besar pinggir jalan, yang pemiliknya rela berjualan tahu goreng via gerobak di depan rumahnya. Dengan pelayanan yang ramah khas owner, kualitas produk yang terjaga, mereka bisa menjual 1200 pcs tahu goreng per hari. Kebayang tidak raksasa seperti Pizza Hut harus berhadapan dengan yang model begini... Apalagi kemudian menjadi masif, dengan ribuan gerobak dan ribuan owner yang berbeda dan turun langsung.

Ini juga menjadi pelajaran bagi kita-kita yang mau belajar bisnis. Sudah gak relevan lagi membuat business plan sebuah bisnis yang diawali dengan mempekerjakan karyawan. Kini semua orang turun langsung mengurusi bisnisnya. Tentunya beda sentuhan antara owner dan karyawan. Ketika owner langsung yang turun untuk mengurusi bisnisnya, dan menjadi masif di semua tempat, tentunya ini ancaman yang menggerus korporasi-korporasi besar.

Yes, akhirnya dunia ini menjadi multi-polar. Bahkan di level negara, kini sudah tidak adalagi negara adidaya. The so call negara adidaya pun kini repot mengurusi tunjangan kesehatan dan pengangguran di negaranya sendiri. Raksasa monopoli sepeti Google dan Facebook pun saya yakin sedang ketar-ketir. Karena kalau mereka gagal mempertahankan dominasinya, akan segera tergilas sejarah.


Gejala kedua, teknologi..

Kalau di jaman kuno dulu, ekspansi bisnis adalah dengan membuka cabang, maka lahir era modern dimana ekspansi bisa berarti franchise atau MLM atau kemitraan. Di era teknologi ini, semua menjadi tak relevan. Kita bisa lihat betapa lapak-lapak online UKM bisa menjangkau nusantara tanpa perlu memiliki banyak outlet seperti Matahari misalnya. Dengan organisasi bisnis yang sangat efektif dan efisien.

Perusahaan yang anti-teknologi, mengalami kemunduran. Perusahaan yang bersahabat dengan IT, melejit pesat bahkan tanpa persaingan berarti. Dunia bisnis sedang menuju titik keseimbangan yang baru.

Yang saya alami adalah ketika klien saya www.calico.co.id , dengan support IT nya walau belum genap satu tahun berdiri, bisa mengalahkan dominasi petshop-petshop yang sudah puluhan tahun berdiri di indonesia. Tentunya banyak faktor lainnya juga seperti keramahan, kelengkapan barang, service dan lain-lain. Tapi faktor IT sangat berpengaruh disini. Juga faktor pertama yang saya sebutkan diatas, yaitu owner yang turun langsung. Tak jarang pak Dendy Nugroho mengantarkan pesanan customernya secara langsung ke rumah-rumah.

Yang lebih mengejutkan adalah portal kucing www.cattery.co.id besutan Rachmat Bontara. Belum satu bulan berdiri sudah ramai sponsor menawarkan diri. Bahkan tim-nya belum mempersiapkan tentang monetize nya. Ya, teknologi mengubah segalanya. Kalau jaman dahulu kita harus mendatangi narasumber secara langsung, menghadiri seminar atau workshop, menjadi member komunitas, kini semua lebih mudah karena faktor teknologi. Ternyata korporasi-korporasi besar kini melirik dunia maya, internet, website, komunitas online untuk media PR dan marketing.

Kita memasuki jaman dimana era iklan di tv dan billboard pinggir jalan sudah terlalu mahal, dengan jangkauan tak terbatas. Semua melirik iklan di dunia digital. Saat ini jangkauan portal besutan Rachmat sudah mencapai total 300.000 orang lebih per bulan. Dan tren nya terus meningkat. Bayangkan kalau kita biasa ber-iklan di media majalah offline, biaya iklan Rp 8jt untuk 1 halaman dalam sebulan. Dengan oplah "hanya" 10.000 pembaca. Sudah terlalu mahal. Untuk menjangkau 10.000 orang, mungkin kita hanya membutuhkan Rp 200.000 di media online milik Rachmat. Hemat 40x lipat.

Simulasi diatas menggambarkan bahwa dunia digital akan menjadi killer bagi bisnis konvensional. Betapa banyak koran dan majalah yang gulung tikar karena internet. Para peritel konvensional yang bangkrut karena kalah dengan internet.

Beruntunglah bagi yang antisipasi dua hal ini. Siap di era long tail, turun langsung meng-handle bisnisnya, segmentasi/positioning/branding yang fokus, dan siap dengan perubahan teknologi. Mereka adalah pemenang-pemenang baru dalam kompetisi di era modern ini.

Nah, bagaimana caranya bersaing di era long tail dan teknologi ini? kalau sempet insya allah saya share, kalau tidak sempet ya boleh mampir untuk diskusi deh hehe...

Sekian dulu dan semoga bermanfaat


Selasa, 19 Mei 2015

5 Kunci mengawali bisnis yang sukses

Ceritanya dari kemarin sedang mengamati bisnis-bisnis teman yang sukses, termasuk baca kisah-kisah pengusaha sukses. Menarik, ternyata ada benang merah yang sama. Dan sepertinya sudah berkali-kali juga mengulas topik ini. Ini bisa dijadikan acuan untuk memulai sebuah bisnis

1. Hobi
yes, mereka semua mengawalinya dari hobi. Dari hobi ngoprek-ngoprek komputer, internetan, hobi memancing, menembak, hobi koleksi tas, hobi jalan-jalan, berkebun, menyayangi hewan, hobi investasi, anything!

belum punya hobi? kasian amat...
gampang kok, langkah awal dihitung saja aktifitas apa yang paling sering kita lakukan setiap hari. Itu biasanya hobi.

langkah kedua, cek semua kemungkinan apakah hobi tersebut bisa di monetize. Misalnya hobi nya ternyata nonton acara/portal infotainment, atau main game, bisa dijadiin duit gak? kalau misalnya gak bisa ya tinggalin aja hobinya. gak guna sih :D ingat hidup gak lama, carilah aktifitas yang bermanfaat, produktif.

Mengapa hobi penting untuk memulai bisnis? ya karena hanya dengan hobi, kita rela melakukan sesuatu tanpa dibayar. Gak hitung waktu terbuang, gak hitung tenaga yang capek, dan lain-lain

2. Ahli 
Kenapa harus menjadi ahli? ya karena orang-orang akan mendengarkan kita atas kompetensi yang kita miliki. Dalam bisnis, sangat penting membuat orang lain untuk mendengarkan dan mempercayai semua yang kita katakan, melakukan semua yang kita rekomendasikan, bahkan mengajak orang lainnya untuk berbuat hal yang sama.

Katanya butuh 10.000 jam untuk menjadi ahli. Untuk pegawai kantoran yang kerja 6 jam per hari, 5 hari per minggu, Maka butuh waktu setidaknya 7 tahun untuk menjadi ahli. Itupun kalau posisi di kantor selalu sama (misalkan selama 7 tahun di bidang sales saja, atau HRD saja)

Misalkan kita mau nyambi bisnis jualan baju anak di luar pekerjaan kantor. Berapa waktu yang kita luangkan untuk bisnis baju anak? 2 jam per hari? 5 hari kerja? iya dong, kan kerja full seharian, masa weekend gak liburan hehe... Oke, berarti untuk menjadi ahli di urusan baju anak butuh 21 tahun.

Lho lama banget? kan bisa nyuri-nyuri waktu ketika di kantor.
Ya makin rusak dah hehe...bisnis jangan disambi-sambi deh...

Buat perbandingan ya bisnis orang-orang yang dekat,
Istri hobi kucing, hingga akhirnya mendirikan Prabu Cattery. Dan ternyata hobi kucing ini benar-benar menguras energi. Dari mulai perawatan sampai dengan mengurus ketika sakit.

Aktifitas istri dan timnya dimulai dari jam 8 pagi, non-stop sampai jam 5 sore. Kemudian istirahat, dan dilanjut jam 8 malam sampai jam 10. Total 11 jam per hari. Itu belum termasuk kalau kucing sedang lahiran atau sakit, bisa baru tidur jam 3 pagi, atau bahkan tidak tidur.

Sabtu-Minggu libur? jangankan weekend, lebaran dan natal pun Cattery tidak libur. Lho siapa yang mau kasih makan dan mengurus kucing-kucing? Jadi anggaplah rata-rata 12 jam per hari, 7 hari dalam seminggu. Istri hanya butuh 2,5 tahun untuk menjadi ahli di bidang kucing.

Cattery nya sudah 5 tahun berjalan, fokus hanya di ras Persia, terbayang bagaimana ahlinya. Belajar langsung dari ahlinya di Eropa, Amerika. Dari ilmu breeding, genetika kucing, showing, grooming. Dan sekarang menjadi referensi utama tempat para pecinta kucing di Indonesia bertanya dan mendapatkan informasi tentang kucing. Bersama adik sepupunya sebagai co-founder, mendirikan portal kucing terbaik di indonesia www.cattery.co.id

Contoh lainnya sahabat saya Dendy. Mendirikan Calico Petshop www.calico.co.id . Full time mengurus bisnisnya. Buka petshop jam 11 siang, tutup jam 8 malam. Di luar waktu tersebut pun masih melayani customer via whatsapp/bbm. Sabtu-Minggu libur? boro-boro, Dendy malah memilih buka lapak di Car Free Day. Alasannya hanya sekedar untuk lebih mendekatkan diri ke customernya. Butuh 2,5 tahun untuk menjadi ahli. Dan hanya dalam waktu 1 tahun, Petshop nya sudah sejajar dengan petshop-petshop besar di tanah air yang telah berdiri belasan bahkan puluhan tahun lalu.

Punya hobi memancing? pastikan jadi yang terbaik. Hobi design interior? jadi yang terbaik, belajar dari yang terbaik.

3. Komunitas
Oke kita sudah hobi, pastinya kita mencari tempat untuk menambah kompetensi atau jadi ajang aktualisasi. Biasanya di komunitas. Ketika menjadi ahli pun, jangan tinggalkan komunitas hobi, tapi justru kita yang sharing disana. Dengan berbagi itu justru ilmu kita semakin bertambah. Percaya deh.

Setelah hobi dan menjadi ahli, kita perlu wadah untuk dikenal. Supaya banyak orang tahu tentang kompetensi atau keahlian kita. Komunitas hanya salah satunya, bisa juga dengan blog, menulis buku, membuat seminar/workshop dan lain-lain. Hal ini akan terkait dengan trust yang sangat kita perlukan nanti dalam membangun bisnis.

Hal penting lainnya dari berkomunitas adalah networking. Misalnya kita join di komunitas tas Hermes, kita bisa tahu tentang cara merawat tas tersebut, suplier murah tas tersebut, seller-seller yang sudah existing dari tas tersebut dengan segala kekurangan dan kelebihannya (jadikan inspirasi untuk bisnis kita nanti, kita eliminasi kekurangan-kekurangan yang ada, tambahkan value lain), informasi cara menjual beserta pasar (termasuk bazaar dan lain-lain), cara membedakan tas asli dan palsu.

Tapi sekali lagi, jangan pernah berniat secara langsung untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari berkomunitas. Sebaliknya, justru diniatkan untuk sharing sebanyak-banyaknya manfaat yang bisa kita berikan ke anggota lainnya. Orang yang selalu grasak-grusuk di komunitas, hard selling, memanfaatkan komunitas, biasanya gak akan sukses bisnisnya.. Dan tidak mendapat simpati, serta tidak ada chemistry dengan segenap member lainnya. Diniatkan sharing saja yaa

4. Problem Solving
Cari masalah. Ya bener cari masalah!
Setelah punya hobi, menjadi ahli, lalu berbaur dengan yang lain via komunitas, tentunya kita akan lebih mengenal dan mendeteksi setiap ada masalah tentang hobi tersebut.

Disinilah peran entrepreneur,
Membuat masalah menjadi opportunity
Dan membuat yang gak ada (solusi), menjadi ada.

Contohnya misalnya hobi memancing ikan. Harga sewa kapal mahal-mahal, fasilitasnya juga buruk dengan pelayanan apa adanya. Nah ini peluang bisnis.

Atau misalnya komunitas ibu-ibu yang pada diet mayo. Disitu misalnya lagi ada masalah susahnya cari makanan yang mereka inginkan. Nah peluang jadi cattering khusus mayo.

Kalau di salah satu bisnis saya PlasaEmas.com, salah satu masalah yang ada di komunitas kolektor emas adalah rasa aman. Beli emas batangan di tempat umum seperti mall, pasar, apalagi gedung antam, buat sebagian orang akan menjadi pengalaman yang mendebarkan. Takut diikuti perampok, dan lain sebagainya. PlasaEmas menjadi solusi aman, dan juga praktis. Cukup duduk di rumah atau di kantor, emas diantar. Bahkan ketika mau jual kembali emasnya, dijemput juga oleh PlasaEmas.

Untuk memecah masalah, cari selalu cara untuk lebih cepat, lebih murah, lebih ramah, lebih value for money, lebih lengkap, lebih baik, lebih ringkas, lebih efektif, lebih efisien, lebih ramah, lebih fast response, lebih bertanggungjawab, dan lain-lain.

Tapi gak boleh langsung lompat ke problem solving ya... Ingat tahapannya harus hobi dulu dan jadi ahli. Banyak pemula bisnis yang langsung mulai dari problem solving, akhirnya pas coba jualan, customer bertanya-tanya "siapa elu?", "loe punya keahlian apa?", "loe bisa dipercaya?"

5. Start now dan Tunda Kesenangan 
Setelah dianalisa bisnisnya, kalau perlu dengan feasibility study, business plan, dan tools lainnya, langsung mulai saja bisnisnya. Jangan sampai kehilangan momentum.

Kesamaan lainnya yang terjadi pada bisnis-bisnis sukses yang saya amati adalah kemampuan manusianya dan sistemnya untuk menunda kesenangan. Biasanya 3-5 tahun pertama berdirinya, tidak ada dividen dibagikan. Semua keuntungan untuk di re-investasi, termasuk memperbesar anggaran marketing untuk memperluas jangkauan penjualan. Prioritas awal untuk survive dan growth. 3 tahun pertama jangan ambil keuntungan.

Owner bisa bersabar untuk tidak ganti mobil baru, jalan-jalan ke luar negeri. Tim lainnya pun bersabar untuk tidak mendapat bonus dan tunjangan. Makanya biasanya startup memberikan saham untuk semua pegawainya ketika diawal berdiri sebagai ganti bonus. Tapi tentunya mereka tak akan melupakan jasa tim ketika ada kenaikan valuasi perusahaan.

Ketika membuat bisnis baru, pastikan modal awal dari kantong sendiri. Cuma ada dana Rp 1 juta, ya itu saja yang digunakan untuk modal. Jangan berhutang untuk memulai bisnis baru.

Pastikan juga diniatkan untuk dijual bisnisnya. Lho kenapa dijual?
Karena kita bisa kaya dengan menjual bisnis. Bisa dengan di akuisisi, atau dengan listing di bursa saham. Bukan berarti kita tidak lagi memiliki bisnisnya, kita bisa saja hanya menjual separuh kepemilikan perusahaan toh?

Hal yang seharusnya terjadi ketika kita niatkan untuk menjual perusahaan adalah : pencatatan transaksi yang rapi, sistem/SOP perusahaan yang sudah berjalan mulus, value dan standarisasi yang jelas. Jadi siapapun yang memimpin perusahaan, tidak akan mempengaruhi performa perusahaan.Ya namanya dalam kondisi siap untuk dijual kan begitu. Positif kan?


Gimana? gak terlalu sulit kan untuk memulai bisnis yang sukses?
Ingat
Hobi >> Ahli >> Komunitas >> Problem Solving >> Start now! 
Selamat mencoba!

Selasa, 24 Februari 2015

Passion, Expert, Value, Love, and always Limited




Jadi ceritanya pada suatu malam melewati satu jalan di condet dan melihat ada keramaian. Rupanya ada tukang durian gelar lapak di depan rumah warga, dikerubungi para pelanggan. Saya pun yang tadinya hanya lewat, ikut penasaran, gabung dengan kerumunan pemangsa durian tersebut.

Sang penjaja durian adalah sepasang suami-istri asal jawa, usia sekitar 40 tahun. Bawa motor berisi keranjang durian penuh, kemudian digelar di pinggir jalan begitu saja. Saya perhatikan satu persatu transaksi tukang durian dengan para fans-nya yang jumlahnya belasan itu.

Passion
Terlihat pasangan suami istri bahagia sekali melayani pelanggannya satu persatu. Selalu senyum, tertawa dengan tulus. Terlihat bedanya dengan pedagang-pedagang pada umumnya, yang senyumnya penuh arti karena mata duitan hehe.. Yang ini senyumnya asli terlihat tulus, sangat menikmati profesinya. Masya Allah, semoga Allah memberkahi mereka berdua. Paling senang orang yang bekerja dengan senyum tulus. Energi positifnya PASTI menular ke customer, dan itu sangat disukai customer.

Expert
Terlihat seorang customer bertanya,
"Mas, coba tunjukin, gimana caranya pilih duren bagus dengan hanya pegang saja?"
"Oh jadi begini pak blablabla... kalau duren itu harus blablabla.." jawab tukang durian dengan sangat meyakinkan.
"Nah, kalau duren yang ini pasti bagus..." kemudian dibuka sedikit duriannya, pelanggannya disuruh mencicipi..
Wih.. ekspresi pelanggannya merem melek hehe... langsung lah dibungkus duriannya oleh pelanggan tersebut

Value
"Jadi kita hanya menjual durian terbaik mas...." kata tukang durian tersebut dengan rendah hati dan senyum jawa khas nya... tentunya beda kalau kalimat tersebut diucapkan sama jenis pedagang kecap nomor satu hehe...

"Pas durian datang dari palembang, kita dapat jatah untuk ambil 300 buah, tapi kita gak mau ambil semua. Suami saya tetap sortir, walau akhirnya cuma dapat 100 saja. Tapi gak apa-apa, yang penting kita cuma mau jual yang bagus saja". Kata istri tukang durian dengan bahasa jawa yang halus...

"Duriannya di buka disini aja, jadi kalau isinya tidak bagus, langsung bisa ditukar dengan yang bagus. Gak usah ngerasa gak enak, memang kewajiban saya untuk kasih durian yang bagus ke bapak" tambah sang istri.

"Jadi harga duriannya agak mahal sedikit gak apa-apa ya mas? soalnya memang kami sortir.."
"Ah gak mahal kok bu, sama aja harganya dengan pedagang di pasar induk..."

Love
Pelanggan lainnya menyahut
"Saya sering ditipu bu sama pedagang durian di pasar, udah beli mahal-mahal 80ribu, eh ga taunya dalemnya jelek semua..."

"Oh kalau disini dijamin mas.. justru karena kita kasian banyak orang yang kecewa dapet durian jelek, jadinya kita selalu sortir. Saya juga bingung sama pedagang-pedagang, kok ya tega jual durian jelek ke pelanggan.. saya mah ga tega..."

"Jadi memang sisa sortiran kita itu yang dilempar ke pedagang-pedagang itu mas"

Limited
Desss... ludes habis langsung durian dagangannya...
"Ya beginilah mas.. durian bagus memang gak banyak... kalau kita mau cari untung banyak mah bisa aja saya bawa durian banyak. Tapi kita cuma mau jual durian bagus. Jadi sedapatnya ya cuma segini... Kasian juga ya banyak yang gak kebagian"

Wihh speechless betapa sepasang suami-istri ini menginsipirasi. Betapa care, detail.
Sebenarnya ya, hal-hal yang sukses dalam skala mikro, secara logika sebenarnya hanya tinggal memperbesar skala saja untuk di aplikasikan pada makro. Misalnya luas lapaknya diperbesar, pegawainya ditambah dengan catatan memiliki spirit yang mendekati owner, jangkauan jualannya diperluas via buka cabang atau online. Tapi sayang hal-hal seperti ini gak kepikiran oleh kebanyakan orang. Atau memang gak mau?

Lima hal diatas juga ada pada diri klien saya, tim Petshop Calico, dan Cattery milik istri saya.
Dalam hal passion, pak Dendy dan tim benar-benar penuh kebahagiaan dalam menjalankan bisnisnya. Sering terlihat becanda, senyum, tertawa, baik sesama anggota tim ataupun kepada customer. Memang mereka semua para pecinta hewan, jadi sangat mudah berbisnis petshop. Begitu pun istri saya dan tim, bekerja tidak kenal waktu, nyaris tanpa libur, bahkan cattery girl nya bisa sambil shalawat Nabi ketika membersihkan kucing setiap hari hehe

dalam hal expertise, mereka sangat-sangat expert. Memberikan masukan tentang cara perawatan anjing dan kucing kepada customer, makanan kucing, bahkan hewan-hewan lainnya. Tak cuma itu, mereka pun selalu meningkatkan expertise nya setiap waktu. Dengan mengikuti seminar-seminar tentang hewan peliharaan, workshop, buku-buku dan literatur asing, dan lain-lain. Karena kebetulan dunia petshop dan cattery banyak yang beririsan. Banyak yang bilang kalau istri saya kini telah menjadi salah satu orang yang paling expert dalam hal kucing di Indonesia.

Value ga usah ditanya, dari mulai ramah, lengkap, free ongkir, hadiah langsung, diskon, apa aja yang bikin pelanggan senang. Karena dulunya pak dendy juga customer, seringnya dijutekin sama petshop owner hehe... ditambah stok barang yang tidak lengkap, harga mahal, combo deh gak enaknya. Pak dendy tentunya tidak mau mengulangi experience itu ke pelanggan-pelanggannya.

Cintanya ke customer juga tidak perlu diragukan. Sampai petshop nya jadi rumah kedua buat customer, dari mulai curhat asmara (buat customer yang abege), curhat karir, bisnis, pokoknya apa saja dibahas disana. Pun value prabu cattery yang cuma mau breeding kucing persia dengan kualitas terbaik, dengan perawatan terbaik.

Limited? Ya pastinya. Program-program promonya selalu limited. Misalkan lelang setiap hari yang hanya 1 item. Open house yang terbatas bagi yang datang langsung ke petshop, dan lain-lain


Sama halnya dengan Prabu Cattery, kucingnya limited... itupun seringnya menolak banyak calon adopter kalau dirasa tidak cocok.

Kembali ke tukang durian, jadi bedanya tim pak Dendy dengan tukang durian tersebut adalah, petshop calico willing untuk menjadi besar, punya visi, dan didampingi konsultan berpengalaman. Insya Allah tinggal tunggu waktu suksesnya.

Semoga hari ini penuh berkah untuk kita semua
Saya mau lahap durian dulu hasil borong semalam heuheu

Rabu, 08 Oktober 2014

(Tidak Semua) Pelanggan adalah Raja


Masih terkait dengan tulisan-tulisan sebelumnya... http://adzan101.blogspot.com/2014/10/mengukur-nilai-pelanggan.html

Bahwa sudah bukan rahasia lagi kalau bank selalu mengecek secara rutin data-data nasabah seperti saldo, aktifitas rekening, penggunaan jasa, kunjungan ke kantor cabang, dan lain-lain. Nasabah yang menguntungkan bank tentunya mendapat  pelayanan high class, sementara nasabah yang merugikan mendapatkan pelayanan yang biasa-biasa saja.

Contoh paling ekstrem adalah INGDirect. Perusahaan jasa keuangan cepat saji. Jasa yang ditawarkan antara lain berupa rekening tabungan, deposito, pinjaman dan lain-lain. Dulu web-nya ingdirect.com sekarang masih bisa dilihat di ingdirect.com.au. INGDirect mencari hubungan dengan nasabah yang tidak memerlukan perlakuan khusus yang mahal, sambil memecat nasabah yang memerlukan atau menginginkannya.

Perusahaan hanya menawarkan pelayanan yang benar-benar dibutuhkan. Anehnya keuntungannya melesat cepat, lebih dari 200% dalam satu tahun. Rahasianya adalah hubungan yang selektif. Bank menarik nasabah yang tidak memerlukan pelayanan istimewa, dan bank memberikan bunga yang tinggi atas tabungan nasabah. Untuk mengimbanginya,  bank melakukan 75% transaksinya secara online, menghindari pelayanan istimewa, dan menawarkan layanan yang hanya benar-benar dibutuhkan saja. Benar-benar menghemat pengeluaran!

Faktanya ING justru malah "memecat" nasabah-nya secara rutin, terutama yang menuntut terlalu banyak. Dengan mengabaikan pelanggan yang terlalu membuang waktu, ING berhasil menurunkan biaya per rekening dengan fantastis.

CEO-nya Arkadi Kuhlmann mengatakan, "Kami harus menekan pengeluaran, yang tidak akan berhasil bila pelanggan menginginkan banyak pelayanan. Jika rata-rata biaya panggilan telpon pelanggan adalah $5,25 dan rata-rata keuntungan rekening adalah $12 per bulan, maka hanya diperlukan 100.000 pelanggan berperilaku buruk agar biaya melangit. Jadi jika pelanggan sudah terlalu sering menelepon atau menginginkan terlalu banyak pengecualian terhadap peraturan, penjual kami biasanya berkata : Dengar, bank ini tidak sesuai untuk anda. Kembalilah ke bank biasa yang nyaman... Semua ini perihal menemukan pelanggan yang merasa nyaman dengan bisnis swalayan; Kami berusaha menarik anda dan mengeluarkan anda dengan cepat. Ketika hal ini menyebabkan sejumlah pelanggan tidak senang, maka pelanggan itulah yang ingin anda singkirkan."


Oke, kisah lain hadir dari Best Buy, retailer barang elektronik terkemuka

Lahir dengan sederhana pada 1966 yang awalnya hanya menjual peralatan stereo untuk mobil-mobil dan rumah, menjelma menjadi 941 gerai bernilai $30 miliar. Sekarang ini selain menjual peralatan elektronik, juga menjual peralatan kantor, rumah tangga, software, CD, DVD, semua dengan harga murah dan diskon.

Tantangan datang dengan hadirnya Wal-Mart yang juga menjual peralatan elektronik, dan Dell yang menjual langsung produknya ke para pelanggan. Wal-Mart menyodok ke urutan kedua dalam hal penjualan barang-barang elektronik dengan $20 miliar, melawan Best Buy dengan $30 miliar. Dell diurutan keempat, namun pertumbuhannya adalah yang paling cepat.

CEO Best Buy, Brad Anderson, takut Best Buy terjebak menjadi pengecer medioker yang tidak menguntungkan, tidak mampu bersaing dengan Wal-Mart yang dengan mudah bisa merebut kalangan bawah yang price sensitive. Termasuk melawan pelanggan online dari Dell.

Best Buy mengadopsi pemikiran Larry Selden, Profesor bisnis Columbia Univ. Singkatnya, Selden berhasil mengidentifikasi dua jenis pelanggan, Angel and Demon alias Malaikat dan Iblis :D

Pelanggan malaikat adalah pelanggan yang menguntungkan. Sementara pelanggan iblis adalah  pelanggan yang bisa membuat perusahaan mengeluarkan biaya pelayanan lebih banyak dari keuntungan yang didapat dari mereka. Best Buy dengan cepat membuat gugus tugas untuk masalah ini.

Dari logika Angel dan Demon ini, dan juga logika Pareto 20-80 (lihat tulisan http://adzan101.blogspot.com/2014/10/kerja-cerdas-dan-menunda-kesenangan.html ) Best Buy menemukan Malaikat pada 20% pelanggannya. Menurut wallstreet journal : "Pelanggan Malaikat Best Buy adalah pelanggan yang membeli TV canggih, elektronik, tanpa menunggu penurunan harga atau obral."

Hasil riset gugus tugas lainnya menemukan bahwa pelanggan iblis adalah pembeli yang suka menawar harga dan ingin memeras habis keuntungan perusahaan. Mereka membeli produk, meminta diskon, mengembalikan barang yang sudah dibeli, lalu membelinya kembali di bagian barang yang di retur (tentunya dijual dengan harga diskon). Mereka memborong barang obralan, yang awalnya dirancang untuk mendatangkan crowd oleh perusahaan, lalu mereka menjual barang tersebut di eBay untuk mendapatkan keuntungan. Mereka juga mencari penawaran harga yang paling rendah di internet dan menuntut Best Buy menepati janjinya untuk selalu menjual di harga terendah. Sadiissss :))

CEO Anderson mempelajari bahwa pelanggan iblis ini bisa berjumlah 100 juta dari 500 juta kunjungan pelanggan Best Buy setiap tahunnya. "Mereka menimbulkan kerusakan ekonomi yang besar." katanya.

Setelah memutuskan bahwa pelanggan tidak selalu benar, dan tidak selalu raja, diputuskan langkah-langkah berani. Database penjualan dan pelanggan digali, dibuat program loyalitas pelanggan, Best Buy memberikan produk yang lebih baik kepada pelanggan Malaikat. Bahkan menawarkan satu asisten untuk pembeli komputer, baik untuk ditoko maupun dirumah, bagi pelanggan bernilai tinggi. Best Buy menyediakan diskon untuk pembelian selanjutnya.

Untuk mengenyahkan pelanggan iblis, Best Buy memindahkan mereka dari daftar pemasaran, mengurangi promosi yang cenderung menarik mereka, dan memasang tarif untuk penggantian barang sebesar 15%!

Best Buy juga mengelompokkan pelanggan terbaiknya menjadi 5
- Barrys, pria berpenghasilan tinggi
- Jills, ibu-ibu yang tinggal di pinggir kota
- Buzzes, pria peminat teknologi
- Rays, laki-laki muda yang baru berkeluarga dengan anggaran terbatas
- Small business owner
Best Buy juga mengajarkan pegawai toko tentang penanganan yang beda-beda untuk 5 kelompok tersebut. Juga mengajari tentang seni melayani Malaikat dan mengusir iblis hehehe...

Pada toko yang dominan Barrys, pegawai toko mengarahkan mereka ke pusat Home Theater di tengah toko yang berkelas tinggi dan terkenal, ditambah konsultan Home Theater yang tidak memaksa. Di toko yang populer dengan Buzzes muda, Best Buy menata daerah videogame dengan kursi kulit dengan layar besar. Puluhan game tersusun rapi disana.

Boom! penjualan meningkat tiga kali lebih banyak...

Saya jadi teringat, sudah memberikan tugas-tugas kepada klien saya, Petshop Calico / calico.co.id untuk selalu memberikan perbedaaan layanan kepada para customer. Kami membaginya menjadi beberapa kelompok, antara lain Classy customer, pelanggan Ring-1, Breeder (Cattery/Kennel/Cathouse), Reseller, dan lain-lain. Juga sudah menyiapkan kustomisasi untuk toko cabang yang akan dibuka. Program-program untuk berbagai kelompok pelanggan sedang digodok, tentunya nanti kami share jika telah berjalan dan berhasil.

Bagaimana dengan bisnis teman-teman? apa sudah fokus dengan kelompok-kelompok pelanggan? trust me it works!

Semoga berguna ya...


Selasa, 07 Oktober 2014

Mengukur Nilai Pelanggan


Sebenarnya mau menulis tentang Customer Equity, tapi karena sedari awal blog ini menghindari bahasa-bahasa rumit, jadi kita sederhanakan saja ya...

Jadi kata mbah Philip Kottler, mbahnya pemasaran, kita sebagai pedagang harus mengukur yang namanya customer lifetime value (ini terjemahan tepatnya apa ya :D) atau nilai seumur hidup dari pelanggan (fiuh jadi panjang aja)

Misalkan ada pelanggan belanja rutin Rp 100.000,- setiap minggunya ke Petshop Calico, dengan asumsi pelanggan tersebut tinggal didekat outletnya selama 10 tahun. Maka customer lifetime value-nya adalah Rp 50.000.000,- (asumsi 50 kali belanja dalam 10 tahun).

Kesimpulannya, kalau ada satu pelanggan Petshop Calico yang tidak puas, dan pindah ke petshop lain, maka sesungguhnya Petshop Calico sudah kehilangan Rp 50.000.000,- wih ngeri ya... Padahal Calico petshop sudah dijuluki Petshop murah... (lha jadi ngiklan)

Nah uniknya, customer equity itu gabungan dari customer lifetime value-nya pelanggan baru dan pelanggan potensial. Semakin setia pelanggan = semakin tinggi customer equity-nya. Lho kok hanya pelanggan baru dan potensial? bukan dari pelanggan lama? 

begini ceritanya...

Customer equity bisa menjadi ukuran untuk kinerja perusahaan yang lebih baik, ketimbang dari data penjualan terkini ataupun penguasaan pangsa pasar. Karena penjualan dan pangsa pasar itu mencerminkan masa lalu. Sementara customer equity cerminan masa depan.

contohnya...

Pada tahun 70-80, Cadillac memiliki pelanggan paling setia. Mendominasi 51% pangsa pasar kendaraan. Sekilas terlihat menjanjikan bukan? Tapi ternyata customer equity suram..

Mengapa suram? Karena rata-rata customer-nya sudah berusia 60 tahun. Jadinya customer lifetime value turun. Mobil Cadillac yang dibeli, adalah mobil terakhir yang akan dibeli customernya. Tidak ada anak-anak muda yang mau membeli.

Sementara saat itu BMW baru akan booming, karena lebih muda dan enerjik. Penjualan dan pangsa pasarnya masih kalah dari Cadillac. Tp customer equity BMW jauh lebih tinggi, karena customer lifetime value-nya lebih tinggi dari Cadillac. Hasilnya bisa ditebak, dalam tahun-tahun berikutnya penjualan dan pangsa pasar BMW meningkat, sementara Cadillac merosot.

Balik lagi ke customer equity dimana loyalitas pelanggan adalah kuncinya. Sebelum lebih jauh bahas tentang manajemen hubungan pelanggan (ini terjemahan dari CRM :D), ada penjelasan sederhana untuk memetakan pelanggan, dibagi berdasarkan loyalitas dan profitabilitas.

Ada pelanggan yang datangkan profit tinggi, namun loyalitas rendah. Mereka menyebutnya kupu-kupu. Sebagaimana kupu-kupu, kita cuma bisa menikmati mereka sesaat, kemudian mereka pergi. Contohnya seperti trader bursa saham. Lelumpatan jual-beli saham kesana kemari, tidak seperti saya yang loyal sama 1-2 emiten saja hehehe... Usaha untuk mengubah kupu-kupu menjadi pelanggan setia, jarang berhasil. Cara menarik kupu-kupu ini ya dengan promo-promo bombastis. Tapi ya begitu deh, cuma buat sesaat..

Sebaliknya, ada pelanggan jenis keong (ini istilah dari mbah Kottler lho). Loyalitas tinggi, namun profit yang didatangkan rendah. Contohnya seperti nasabah bank kecil, yang menabung secara teratur, tapi saldonya masih sedikit saja (kayak saya hehe). Keuntungan yang didapat oleh bank dari nasabah seperti ini, tidak sebanding dengan biaya untuk melayani nasabah tersebut.

Jadinya seperti keong di badan kapal, mengganggu. Sebenarnya bank itu rugi lho kalau saldo nasabahnya sedikit. Belum lagi kalau nasabahnya rewel, sering menghubungi call center, mendatangi customer service dan lain-lain. Coba perhatikan iklan-iklan bank, "tingkatkan terus saldo tabungan anda!" Nah make sense kan :D bank-bank Indonesia rupanya masih banyak "terganggu" dengan overhead dari nasabah jenis ini...Solusinya memang harus ditingkatkan saldo-nya..

Kalau kita mempunyai pelanggan jenis keong ini, dan kita gagal "meningkatkan saldo" pelanggan tersebut, kemudian akhirnya hanya menjadi keong yang mengganggu, maka pelanggan seperti ini "halal" untuk dipecat :D

Ada juga istilah "orang asing". Ini bukan pelanggan setia dan keuntungan yang didapat darinya sangat rendah. Simple : Invest nothing untuk pelanggan jenis ini, jangan melulu turuti kemauannya, jangan terganggu dengan komplain-komplainnya. Inget dong, kita punya prioritas, jangan sampai terkuras resources kita, fokus kita, energi dan konsentrasi kita untuk jenis pelanggan yang ini ...

Terakhir adalah pelanggan berjenis "teman sejati". Pelanggan dengan loyalitas tinggi dan mendatangkan keuntungan yang besar juga. Waini!

Kita kudu invest untuk melanggengkan hubungan, memuaskan, mempertahankan, menumbuhkan pelanggan jenis ini.. ya tentunya selama masih dalam batas tidak melanggar norma-norma yang ada

Selain hubungan yang saling menguntungkan, pelanggan jenis ini biasanya akan memberitahukan ke orang lain tentang pengalamannya transaksi dengan kita.

Intinya, tiap jenis pelanggan kudu punya tritmen yang beda-beda. Dari pengalaman penulis sendiri memang sebenarnya lebih mudah me-maintain pelanggan berjenis teman sejati. Klien-klien perusahaan IT kami yang corporate besar (dengan transaksi besar juga tentunya), justru tidak banyak komplain, pembayaran lancar, koperatif dan sebagainya. Beda dengan klien UKM atau yang rumahan. ampun deh :D

Sama seperti di PlasaEmas.com, pelanggan-pelanggan korporat yang membeli emas dalam kuantiti banyak untuk bonus karyawan-karyawannya, relatif lebih mudah di maintain. Termasuk customer-customer langganan yang hobi beli 50gram, 100gram, atau bahkan 1 kg setiap bulan, sangat mudah dan koperatif. Bahkan terkadang emasnya tidak diambil-ambil sampai berbulan-bulan.

Dan "ujian" paling berat ya ketika menghadapi "orang asing". "Pak, saya baru mau coba investasi emas. saya mau beli emas 1 gram COD di cikarang ya! karena saya kan belum percaya nih sama bapak... kok ga bisa ya?!! gimana sih ini pelayanannya buruk sekali!!!" Selalu, lebih sulit menghadapi yang demikian, dan lebih menguras konsentrasi, seandainya kita tidak memilki prioritas dan fokus.

Begitupun pengalaman istri di PrabuCattery.com, lebih mudah berurusan dengan "teman sejati". Dulu waktunya habis (juga energinya) menghadapi (calon) adopter yang berjenis "orang asing". Kalau sekarang, "orang asing" sudah di eliminasi.. hidup jadi tenang.

Ada cerita juga dari pak Dendy owner Petshop Calico, dulu ada pelanggan nya yang minta COD pasir kucing di bekasi. FYI, keuntungan pasir kucing itu cuma Rp 10.000,- dengan berat 25kg. Tidak usah hitung tenaga antar, untuk bensin nya pun tidak nutup hehe.. Mungkin pak dendy sedang semangat tinggi karena petshop baru saja dibuka saat itu. Padahal saya sebagai konsultan, sudah menyarankan untuk tidak melayani customer tersebut.

Dan benar saja, pelanggan tersebut banyak komplain. Dan kalaupun order, nilai transaksi nya hanya Rp 10.000 - Rp 15.000, dengan COD pula hehe... Sementara banyak pelanggan loyal lainnya yang transaksi bulanannya bernilai jutaan, dan rela datang langsung ke petshop nya. Dengan keterbatasan resources, tentunya kita harus memilih.. dan sudah jelas, mana yang harus kita pilih hehe...

Nah jadinya sekarang paling tidak kita tahu nilai dari pelanggan, dan bagaimana meningkatkan loyalitas nya dengan fokus dan prioritas tertentu. Memang benar, pelanggan dan transaksinya adalah jantung dari bisnis, karena itu jangan disiakan..

Sekian, semoga berguna.

NB : Petshop calico termasuk yang ekuitas pelanggan-nya bagus, dan saat ini membuka diri untuk kerjasama dana pembiayaan dalam rangka pengembangan usaha (pembukaan beberapa cabang baru), untuk teman-teman yang berminat bisa menghubungi pak Dendy langsung, atau menghubungi saya, atau email ke calicocoid[at]gmail[dot]com

Kamis, 02 Oktober 2014

Kerja Cerdas dan Menunda Kesenangan


Judul yang tepat seharusnya Kerja Cerdas dan Menunda "Kesenangan". Dengan tanda kutip. Yes, karena seharusnya semua hal yang kita lakukan harus penuh kesenangan. Sebagai bukti syukur dan ridha kita atas semua takdir dan karunia yang Tuhan berikan.

Jadi tulisan ini bermula ketika penulis berdiskusi dengan ibundanya tercinta. Dimana ibunda ada niat untuk wakaf dalam bentuk koperasi full dari kantong sendiri, dengan tujuan membantu ustadz-ustadz dan teman-temannya terbebas dari riba. Ada kasus beberapa orang yang seharusnya memiliki motor karena aktifitas dakwahnya, tapi tetap belum memilikinya karena takut terlibat riba dari cicilan motor tersebut. Tentu saja dana sang ibunda terbatas.. mungkin hanya cukup untuk membiayai 3-4 motor saja hehe...

agak susah memulai diskusinya supaya tidak menggurui..
cuma teringat kisah di buku 7 Habits, mungkin sudah banyak yang tahu ya...

kisah tentang desa yang kekeringan air, dimana sumber air sangat jauh. Ada dua orang menawarkan jasanya untuk memberikan air ke desa tersebut. Orang pertama langsung bekerja dengan membawa ember ke sumber air, bolak-balik setiap hari. Orang kedua tidak terlihat lagi selama berhari-hari. Belakangan baru ketahuan kalau orang kedua sedang membangun pipa dari sumber air ke desa tersebut. Begitu saluran pipa selesai, tinggal buka kran dan... selesai. Hingga jasa angkut ember orang pertama tidak dipakai lagi selamanya.

Tanya saya ke ibunda, "ibu mau wakaf ibu menjadi ember bagi orang pertama tersebut yang langsung tersalurkan? atau wakaf ibu mau menjadi satu pipa dari ratusan pipa dari orang yang kedua?"

dijawab cepat, "lebih baik ibu hanya menjadi satu pipa untuk orang yang kedua"

Alhamdulillah lancar penjelasannya hehe..

"lalu solusinya gimana?" lanjutnya

Tenang saja bu, di Arrihlah.com berkumpul orang-orang seperti ibu. Ada expert-expert disana, expert tentang syariah dan ilmu wakaf, expert tentang hukum, expert tentang social-engineering, expert tentang funding, expert bisnis dan lain-lain. Kita sudah mulai wakaf domba, ide-ide seperti pembiayaan untuk motor para ustadz tentunya bisa diusulkan disana.

teringat kata-kata bijak, Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama. So, kalau kita mau proyek jangka panjang yang kuat, bukankah harus bersama-sama?

Saya termasuk orang yang memperhatikan wakaf, terutama wakaf produktif. Daripada kita sedekah besar-besaran, menurut saya (sekali lagi ini menurut saya, mohon maaf kalau salah secara agama) lebih baik dijadikan wakaf produktif (tapi sedekah tetap jalan yaa), lalu kemudian hasil dari wakaf produktif tersebut yang dibagikan ke kaum dhuafa. Contoh wakaf produktif ya misalkan membangun peternakan domba, atau bikin unit usaha air isi ulang, dan lain sebagainya. 

Sama seperti yang Kiyosaki katakan, dari income jangan langsung ke expense. Tapi income di convert dulu jadi aset yang produktif. Begitulah logika wakaf penulis. Memang pasti nikmat sekali kalau kita sedekah 100 juta langsung, manfaat juga langsung terasa. Dibanding kita wakaf produktif 100 juta dan "hanya" menghasilkan 2 juta per bulan untuk kita sedekahkan sebagai hasil wakaf. Tapi percayalah, konsep "menunda kesenangan" (sebagaimana judul tulisan) pasti lebih happy ending...

Menunda kesenangan sementara, untuk kesenangan yang lebih ultimate. Begitu kira-kira. Karena bisa jadi wakaf produktif kita nantinya bisa berkembang dan menghasilkan 100 juta setiap bulannya. Bisa kan? (amiin dulu ya)

Nah, kalau dalam sosial-filantropi aja dituntut efisien dengan bekerja lebih cerdas.. apalagi dalam hal bisnis.
Semua harus dihitung... Misalkan kita punya anggaran untuk intensifikasi bisnis 100 juta dalam setahun. Dihitung mana yang kira-kira memberikan impact besar dalam hal pemasukan. Opsinya banyak :
- Untuk Iklan
- Untuk menambah karyawan
- Untuk menambah kompetensi seperti coaching, seminar, dll
- Untuk penambahan infrastruktur (seperti mesin-mesin, kendaraan perusahaan dll)
 Jadi jangan semuanya dibagi sebagai dividen yaaa... ini biasanya kesalahan pemula-pemula bisnis (penulis termasuk didalamnya hehe)
Jadi dari 100 juta yang ditanam tersebut, pada akhirnya bisa mendongkrak profit lebih tinggi lagi...
tantangan dari guru besar : yang ditanam Rp 1 juta, harus menambah pemasukan sampai dengan 1 Milyar . Bagaimana caranya? saya juga tidak tahu.. baru mencoba hehe..

Makanya biasanya para penunda "kesenangan" adalah orang-orang sukses. Konon pernah ada kisah anak-anak TK dibagikan permen. Barangsiapa yang mau menunda pemberian permen nya sampai selesai jam sekolah, dapat bonus 1 bungkus permen. Ternyata pareto berlaku, tidak sampai 10% anak yang mau menunggu. Dan ketika sudah besar, anak-anak penunda kesenangan ini menjadi pribadi-pribadi sukses..

Ada bakat sukses dalam diri kita semua. Karena kita semua tipe penunda kesenangan kok. Buktinya kalau makan bakso, bakso yang paling besar disisakan terakhir. save the best for last katanya hehehe...

Dalam belasan tahun di dunia entrepreneur, sudah tak terhitung rasanya bertemu pejuang-pejuang yang aset bisnisnya udah milyaran, namun rumahnya saja masih ngontrak. Ada juga yang memilih tidak punya mobil, hanya punya motor. Lebih memilih mobil box untuk angkut barang dagangan. Mereka adalah para penunda kesenangan. Apakah mereka tersiksa dan tidak senang? sama sekali tidak. Mereka melakukan itu semua dengan penuh kesenangan :D

Sempat bercanda dengan seorang sahabat, menyebut istilah alay bisnis, adalah ketika aset pribadi masih lebih besar nilainya dari aset perusahaan hehe... (jangan diambil hati ya)

Orang-orang yang bekerja cerdas dan siap menunda kesenangan adalah orang-orang yang sudah fokus dan punya prioritas hidup. (bisa dibaca tulisan sebelumnya disini http://adzan101.blogspot.com/2014/10/fokus-dan-prioritas.html ) Mereka rela berkorban, tapi tidak merasakan derita. Dan tentunya sudah tidak peduli dengan pandangan dan penilaian orang lain. Karena visi dan tujuannya selalu jelas terpampang di kepalanya.

Kata guru saya, sama seperti orang yang mendapat doorprize 10 milyar mendadak. Disuruh naik ke panggung untuk terima hadiah. Dalam perjalanan menuju panggung, tidak sengaja menginjak paku. Tentunya sakit karena pakunya tidak dirasa, (tidak sampai diving kayak Busquet gitu) karena yang dikepalanya hanya ada hadiah 10 Milyar yang segera diterima.

Para komisaris yang ada di bisnis-bisnis penulis, sudah hafal gaya seperti ini. Dividen jarang, bahkan ada yang 2 tahun tanpa dividen. Tapi terjadi penggelembungan aset perusahaan sampai melebihi 100%. Sampai gak ada yang mau di buyback saham hehe..

Okey, saya gak mau pakai istiliah-istilah rumit ekonomi, cuma mau mengingatkan saja (utamanya buat diri sendiri) untuk memastikan yang kita bangun adalah pipa-pipa air. Kita siap menunda untuk tidak dibayar didepan seperti si pembawa ember. Karena kita punya visi lebih jauh dan lebih cerdas. Setoedjoe?



Fokus dan Prioritas


Konon menurut bibel, pertarungan menegangkan antara David melawan Goliath terlihat tidak imbang. Goliath yang tinggi besar, menggunakan zirah lengkap, melawan David penggembala berbadan kurus dan tanpa baju pelindung. Yang david lakukan hanyalah mengincar sisi kening Goliath yang tidak terlindung, dengan pelontar untuk melontarkan batu. Setttttt! batu melesat cepat, Goliath ambruk seketika tanpa sempat melawan...

Hikmahnya? hanya perlu satu titik fokus untuk memperoleh kemenangan. Awalnya memang terlihat kecil dan dan nyaris tanpa peluang. Tapi satu-satunya peluang itu, jika di eksploitasi secara optimal, dilatih secara terus menerus akan berbalik menjadi kemenangan yang sangat bersejarah nan melegenda. Seperti kisah David diatas

Sama dengan hidup, harus fokus dengan tujuan. Kita harus berani memilih. Hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan hidup, bahkan berpotensi melencengkan kita dari tujuan hidup, secara sadar harus berani kita singkirkan dengan segala konsekuensi nya.

Misalkan dalam hal bisnis, tentunya tujuan awal dari mendirikan bisnis adalah untuk mendatangkan profit. Yang kita fokuskan adalah bagaimana meningkatkan profit perusahaan. Entah dengan teknik marketing terbaru, atau dengan menambah kompetensi bisnis dan lain-lain. Hal-hal yang mengganggu kinerja kita untuk mencapai tujuan tersebut harus berani disingkirkan, seperti kebiasaan judi, dugem, dan sebagainya. Bahkan hal-hal yang tidak relevan (walau tidak mengganggu) juga harus disingkirkan. Seperti kongkow-kongkow bareng teman lama, aktif di organisasi yang tidak relevan, mencoba profesi lain, dan seterusnya.

First thing first kalau kata kawan saya. Bukan berarti kita menjadi sombong dengan menolak judi, dugem, kongkow-kongkow... tapi ini masalah Fokus tujuan hidup, yang akhirnya harus memilih prioritas.

Mungkin ada orang-orang yang tujuan hidupnya menjadi pejudi handal, atau pedugem handal, atau peng-kongkow handal... itu urusan mereka. Urusan saya adalah... misalkan saya seorang Guru di sekolah, ya bagaimana menemukan metoda belajar yang menarik, bagaimana murid-murid saya berhasil, dan sebagainya. Jadi ini memang semacam pilihan hidup.

Prioritas
Pernah denger prinsip pareto yang 80-20 itu? 20% hal kecil bisa mempengaruhi 80% sisanya. Nah ini juga bisa kejadian dalam hal mencapai tujuan hidup. Misalkan ada pengusaha yang income bulanan-nya sudah mencapai 1 Milyar, kemudian maju jadi caleg dimana nanti gajinya "hanya" mungkin sekitar 25 juta. Tapi perhatikan fokus dan konsentrasinya... 80% bahkan 99% waktunya hanya akan dihabiskan tentang hal-hal yang berkait profesi aleg nya. Belum lagi kalau terkena skandal-skandal. Habis waktunya... Bisnis awal tidak terurus, akhirnya bangkrut bisnisnya. Nah, kita lihat bagaimana si 25 juta yang hanya 3% dari penghasilan sebelumnya (1 Milyar), bisa membuat hancur semuanya. Pareto bekerja juga disini :D

Ah masih mending 3%. Bahkan kita rela menghancurkan bisnis kita, hanya demi 0% secara tidak sadar. Gak percaya? coba tanya teman-teman yang ikut organisasi non-profit, komunitas, asosiasi, klub, sampai parpol. Ujung-ujungnya malah sering ribut sendiri karena terlibat politik organisasi. Niat awal kita mungkin baik, untuk membantu sesama. Tapi ternyata menguras energi dan waktu kita habis-habisan. Berakhir kepada kehancuran bisnis kita sendiri yang jadi tidak terurus, karena 100% waktu kita habis disana.

Termasuk prioritas lain adalah, seperti keluarga, pertemanan, dan ibadah. Asik bisnis, tapi keharmonisan rumah tangga terganggu, anak-anak terlibat narkoba (naudzubillah), ibadah-ibadah jadi menurun kualitasnya. Lagi-lagi ini masalah prioritas. Karena seringnya saya melihat orang berjalan tanpa prioritas... ketika hilang sesuatu yang berharga dari dirinya, baru kemudian menyadari salah prioritas. Jadi sebelum telat, mari kita atur prioritas dari sekarang...

Contoh masalah penyaluran Zakat, Infaq, Sodaqoh.. beda dengan kebanyakan orang yang penyalurannya lewat lembaga ZIS, saya prioritaskan dulu untuk orang-orang dekat yang membutuhkan seperti keluarga, kerabat, tetangga, karyawan dan keluarganya. Jadi maaf banget buat teman-teman yang suka sodorin proposal ke saya, seringnya anggaran ZIS sudah habis duluan. Tapi buat orang-orang yang supersibuk, dan kebetulan tinggal dikawasan elit, keluarganya juga sudah mapan semua, ya lembaga ZIS pasti membantu. Menghemat waktu, lebih merata distribusinya, dan berbagai keunggulan lainnya. Ini pilihan kita, tergantung tujuan hidup yang sudah dijelaskan diatas..

Begitu juga masalah pertemanan dan keluarga. Pssst ini topik sensitif. Memang sengaja Tuhan ciptakan seimbang antara manusia-manusia positif, dan juga negatif. Ada tipe manusia yang selalu mengeluh, gak bisa move on dari masalah masa lalunya, seolah-olah dirinya adalah manusia dengan cobaan terberat (mungkin melebihi ujian para nabi hehe). Jangan habiskan waktu kita disini... sisakan saja 2,5% waktu kita untuk mereka (biar kayak zakat hehe). Tetap fokus sesuai prioritas kita. Maju terus menatap masa depan

Ada juga manusia-manusia negatif lainnya yang selalu menjatuhkan semangat dan optimisme kita. Atau mencari-cari masalah ke kita. Susah melihat kita senang, senang melihat kita susah. Ada! kalau manusia seperti ini sebaiknya zero-tolerance. Abaikan saja yang seperti ini, tapi tetap jangan memutus silaturahim ya... tetap didoakan. inget, fokus kita tetap ke tujuan awal ;)

Hal ini yang membuat saya agak strict dengan entrepreneur-entrepreneur baru yang saya bina. Seperti mas Dendy dengan Calico Petshop nya ( www.calico.co.id ), rekomendasi saya agar petshopnya tetap fokus untuk retail... tidak tergoda jadi importir dan sebagainya. Harus menjadi retailer produk pet yang terlengkap dengan best value. Kekuatan nya harus fokuskan disana, sebagaimana Daud mengincar kening Goliath.

Saya mencoba melakukan yang demikian untuk istri saya di PlasaEmas.com untuk fokus di delivery logam mulia emas. Walau sudah menempati kantor sendiri, namun plasaemas tetap tidak melayani transaksi di kantor. Tetap fokus ke delivery. Termasuk di Prabu Cattery, yang fokusnya hanya ingin menghasilkan kucing-kucing sehat berkualitas, dan menjalin persahabatan dengan adopter serta pecinta kucing lainnya. Agar langkahnya tidak melenceng dari tujuan awal. Fokus.

Godaan-godaan untuk mencoba bisnis lain pun datang ke saya. Tapi karena sudah memilih Fokus dan Prioritas, secara sadar saya mengurungkan semua niat tersebut. Walau secara hitung-hitungan diatas kertas, sangatlah menarik. Mencoba menjaga komitmen. Bahkan dari hal-hal kecil seperti menonton pertandingan sepakbola dini hari. Jika besoknya ada agenda penting, ya secara sadar memilih untuk tidur dan istirahat cukup. Walaupun yang tanding adalah klub terkeren sejagad raya, Real Madrid.

Ah, intinya tulisan ini memang ditujukan untuk diri penulis sendiri. Betapa banyak hal-hal yang mengganggu fokus dan prioritas hidup. Satu persatu baru akan mulai di eliminasi. Bagaimana kabar fokus dan prioritas teman-teman semua?