Kamis, 04 Juni 2009

Berbisnis bermodalkan ketakwaan...

Basi banget ya judulnya...

ceritanya Selasa kemarin, ditemani bapak Dedy (owner dan CEO PT.Alpha Multimedia Tech www.net-cyber.com) dapet kehormatan karena salah satu guru kami, Bpk Robbyantono, bersedia meluangkan waktu untuk bersilaturahmi.

so, as always, sayang nih klo perkataan2nya yg bergizi itu tidak didokumentasikan untuk diwariskan ke anak-cucu hehehe..

setelah ditraktir makan,
kira2 beginilah perkataan2 beliau..

"bertahun2 saya berbisnis, ternyata kesimpulan saya mengerucut bahwa kesuksesan kita itu pada akhirnya bergantung dari kedekatan kita kepada Allah"

waw.. opening yg bagus hihihihi..
tampak Dedy semakin serius

"saya pernah bertemu dengan pengusaha sukses, beliau punya perusahaan di Perancis, Malaysia, punya peternakan di New Zealand, dan lain2. Beliau ini ketika akan ekspansi bisnis baru, satu hal yg pertama ditanya adalah apakah bisnis baru ini akan membuat kita semakin bertakwa? dan juga mengajak orang2 untuk bertakwa?"

hehehe klo kita mah ada bisnis baru pasti pendekatannya, berapa lama ROI? berapa lama BEP? betul ga... tapi ini ada sebuah pendekatan baru, yaitu ketakwaan

"maka ketika orang itu ditanya kunci suksesnya ya beliau jawab bahwa kuncinya adalah takwa"

"mas, klo ustadz yg ngomong kunci sukses bisnis adalah takwa, biasa aja toh. tapi ini yg ngomong adalah pengusaha yg tinggal dikawasan elit, dengan kendaraan mercy nya, dan perusahaan2nya yg tersebar di berbagai negara. Ya, beliau bilang kunci sukses bisnis adalah takwa!"

"coba perhatikan ibadah2 wajib kita. apakah dengan bisnis kita sekarang sudah membuat kita shalat wajib berjamaah di masjid?"

"seharusnya kita heran ada orang yang berani menunda waktu shalat karena urusan bisnis. Padahal kita sama2 tahu bahwa yg mengatur rezeki itu adalah Allah, padahal kita sama2 tau bahwa yg memiliki diri kita adalah Allah, bahkan kita tau bahwa semua yang ada di bumi dan langit juga milik Allah"

"mas adzan, kita sering mengeluh karena bisnis kita. Kita mengeluh karena mengecewakan pelanggan, mengecewakan karyawan, mengecewakan investor, mengecewakan keluarga, tapi pernah kita berpikir klo kita sering mengecewakan Allah?"

kemudian ditutup dengan perkataan,

"kita kan paham banget tuh klo kita harus bergantung sama Allah, nah pertanyaannya, layak-kah Allah menolong kita?"

terakhir, alhamdulillah Pak Robby bersedia dilamar menjadi guru kita hehehe

Trima kasih Pak Robby, smoga Allah membalas kebaikan bapak dengan balasan yg berlipat, amiin..

Mau nambahin Ded?

btw buat pak Robby, kami siap menerima tantangannya insya Allah

3 komentar:

Bobby Prajitno mengatakan...

Semalam saya meeting dengan calon mitra bisnis, alhamdulillah berjalan lancar. Hanya satu yang saya perhatikan dari meetingnya, dimana calon mitra tsb selalu menekankan pentingnya kontrak hitam di atas putih. Nggak salah, dan itu dianjurkan biar meminimalkan kemungkinan terjadinya kesalah pahaman di belakang hari.

Tapii.. adakah yang namanya kontrak di jaman Nabi? Apakah saudara kita se iman dan se islam bisa dipercaya seperti masa Rasulullah saw, sampai kita bisa lebih mementingkan baiat daripada kontrak?

Alangkah indahnya bila saya dan kita semua disempatkan untuk merasakan warna kehidupan bermasyarakat di jaman Rasul saw dan sahabat sebagai khalifah. Lalu kita bisa menengok ke alam kita sekarang ini, dan beristighfar.. astaghfirullah

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

akan datang suatu jaman dimana baiat itu lebih penting dari kontrak..

sebagaimana akan datang jaman dimana hewan2 buas seperti singa akan bebas berkeliaran di taman2 kota bersahabat dengan manusia..

klopun kita ga bertemu Rasulullah dan para sahabat di dunia ini, semoga di akhirat nanti kita diberi kesempatan... amiin ya Rabb..

walau diri ini terlalu hina, memalukan dan sangat tidak layak bertemu dengannya..

Zidni mengatakan...

jadi inget khutbah jumat kemarin di wisma tugu.

Doa para nabi.

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari:
1. Anak yang tidak berbakti
2. Sahabat yang buruk
3. Harta yang membawa ke Neraka
4. Istri yang membuat kita tua sebelum waktunya"