Senin, 07 September 2009

Saat finish menjadi penilaian akhir

Terinspirasi dari tulisan pak guru di facebook, "It's not how you start but how you finish" - Bruce Bowen, retired NBA player.

kemudian saya tanya ke pak guru, "trus kapan finisnya?"

blio menjawab, "kalau grafiknya udah lempeng nggak ada naik turunnya lagi.. (grafik detak jantung)"

haha bener juga ya...

Kemudian saya diskusi dengan guru yang lainnya secara offline,
belio bercerita bahwa ada seseorang dengan status ustadz memilih jalan berbisnis. Namun praktek bisnisnya adalah sogok sana sogok sini demi mendapatkan proyek. Bahkan sang ustadz membuat beberapa pembenaran dengan dalil2 al-quran, naudzubillah...

Cerita guru saya, sang ustadz ini justru lucunya ga pernah mendapatkan proyek2 walau sudah menyogok sana-sini, kemudian guru saya berkata "Berarti Allah masih sayang dengan pak ustadz, menjaga dirinya dan keluarganya dari rezeki yg halal"

Wah bener juga ya..

Untuk teman2 yg beragama islam, sudah selayaknya Ridha Allah sebagai tujuan dalam hal bermuamalah. Seperti pada tulisan saya sebelumnya, ketika tujuan kita adalah Ridha Allah, maka tidak ada istilah kalah.

Karena kalah-menang ternyata dilihat dari hasil akhir

contoh 1 :
saya misalnya membeli saham Bumi ketika harganya 5000. Kemudian harganya turun menjadi 3000. Apakah saya kalah? relatif! tergantung anda membuat state garis finishnya. Ketika anda finish ketika saham Bumi di harga 3000, maka anda kalah.

Namun ketika anda menjual saham Bumi anda seharga 3000, dan kemudian anda membeli saham Astra yang saat itu diobral dengan harga 5000 (padahal harga normal 25.000), dan ternyata dalam beberapa hari ke depan, harga saham Astra menjadi 25.000. Apakah anda dinyatakan kalah?


contoh 2 :
Katakanlah anda melihat sebuah peluang bisnis yang bagus. Sudah anda amati sekian lama, dan anda yakin. Balik modal hingga 8 kali lipat dalam waktu 4 tahun. Masalahnya modalnya 150jt misalnya, dan anda benar2 sudah tidak punya uang tersisa. Satu2nya aset tersisa adalah mobil anda satu2nya. Dan kemudian anda menjualnya.... kini anda selalu naik motor untuk bepergian. Apakah anda kalah?

Saya yakin, tetangga anda akan mencemooh anda dan mengatakan anda bangkrut dan kalah. Begitu juga saudara2 anda, mertua anda, bahkan anak2 dan istri anda! Tapi inget, pemimpin harus mempunyai visi dan pendirian..

Sekali lagi kalah-menang adalah tergantung dari cara anda menempatkan garis finis. Ketika garis finish yg ada tetapkan adalah hari ini, ya boleh jadi anda kalah. Tapi klo garis finish nya digeser 4thn kemudian, bisa jadi anda menang.

Apa yang terjadi 4 tahun kemudian? Anda memiliki uang sebesar 1,2Milyar! Bahkan bisa membeli mobil yang lebih mewah ditambah sebuah apartement untuk investasi. Layak kah disebut kalah?


contoh ke 3:

adalah disaat perang Yarmuk. Saat itu Tentara Islam dengan Khalid bin Walid sebagai panglima yang memimpin 3000 orang berhadapan dengan romawi yang berjumlah 200.000 orang. Khalid memilih mundur. Saat itu para penduduk Madinah mencaci mereka sebagai pasukan pengecut.

Khalid punya visi dan pendirian, ia tidak tergoyahkan. Karena garis finish yg ia tetapkan berbeda dengan orang2 pada umumnya. Ia mundur bukan untuk kalah, tapi untuk kemudian menyerang kembali Romawi dengan menghasilkan kemenangan gilang gemilang.


contoh ke 4:

Ketika kami kehilangan beberapa klien yang justru saudara2 dekat kami (ada di tulisan sebelumnya) justru menjadi batu loncatan kami untuk mengevaluasi diri dan sekarang alhamdulillah menjadi kebanjiran klien.

Teman2 smua, seperti kata guru saya di facebook, titik finish kita adalah ketika kita mati. Karena mati adalah rahasia Allah, maka kita pun bisa menggeser state finish kita ke hari esok.

Ubahlah kekalahan kita sekarang, menjadi sebuah kemenangan gilang gemilang di masa depan. Jangan kita fokus sama kekalahan atau kerugian yang kita terima. Tapi mari kita inventaris semua potensi kita yang tersisa, itulah yg kita optimalkan..

Ibarat kita bermain sepakbola, kita kecurian gol di menit2 awal. bahkan gol lawan berbau offside. Ga usah lah kita pusing sama keputusan wasit, yang ada malah kita kena hukuman seperti Persipura hehe..

Lebih baik kita fokus membalikan keadaan supaya menjadi 4-1. Baru setelah pertandingan kita laporkan ke FIFA bahwa gol lawan itu ilegal. Just dont sweat for small stuff!

Ingat, kekalahan/kerugian yang kita hadapi ini adalah cuma sementara ketika kita sadar bahwa garis finish kita adalah hari esok

Seperti ilmu ketapel, mundur dulu sedikit, untuk lemparan batu yang lebih jauh :)

smoga berguna
adzanwahyu.com

2 komentar:

donny hariyanto mengatakan...

bener tuh bro..bahkan ada diantaranye momen-momen bagian akhir tuh yang penting cont : 1/3 malam terakhir,doa pada sujud terakhir,al matsurat pada akhir siang/malam..mungkin biar kita konsisten/istiqomah kali yehh..

Anonim mengatakan...

Bukan YArmuk, tapi Mutah.