Minggu, 06 Desember 2009

Sop Kaki yang asin...

flash back 20thn yang lalu..

di sebuah instansi,

x : ini anggaran untuk pengecatan semua kendaraan kantor dan perbaikan..
y : siap laksanakan komandan..

kemudian Y mengumpulkan semua anak buah nya untuk mengerjakan tugas itu. di akhir masa tugas ternyata banyak cat yang tersisa dan tidak terpakai. di negeri ini, kita sama2 tau tidak boleh ada anggaran sisa, harus dihabiskan..

Y sangat menjaga dirinya dari rejeki yang tidak halal, namun ia tidak bisa untuk berlepas diri dari sistem yang ada. akhirnya Y memilih cara aman. Berbicara Y di depan para anak buah

y : itu cat sisa supaya dijual aja. semuanya
anak buah : trus duitnya?
y : ya buat kalian aja, bagi2 yg bener
anak buah : bapak gimana?
y : saya ga usah, buat kalian aja..

sifat jujur Y kadang menyusahkan dirinya sendiri. bagi banyak orang, untuk naik pangkat pasti memerlukan semacam "pelicin". tapi tidak bagi Y.

"sangat berbahaya menjadi orang jujur" begitu kata michael corleone di film Godfather. akhirnya 4 kali berturut2 Y tidak naik pangkat, karena dikerjai bagian personalia..

"perasaan teman2ku yang pada ga bener udah pada naik pangkat. ada yang hobi nyolong/ngoplos bensin kendaraan kantor, ada yg menghamili adik iparnya, dll. mereka aja sudah naik pangkat, apa mungkin aku lebih bejat dari mereka?" begitu kata Y kepada istrinya saat itu..
"sudahlah pak, kita dagang aja. pensiun dini.. rejeki mah ga kemana.." begitu kata istrinya..
"lalu nanti saya tidak ada teman donk Bu.." kata Y
"selalu ada saya yg akan menemani bapak sampai kapanpun.." balas sang istri
tidak lama kemudian Y mengajukan pensiun dini..

sebelum memutuskan untuk berhenti merokok, Y adalah perokok berat. ada moment dimana komandan nya sedang bercengkrama dengan Y dan teman2nya
komandan : minta rokok donk!
(semua orang menyodorkan rokoknya)
komandan : saya cuma mau rokoknya si Y, karena rasanya asin!
(baca: asin itu maksudnya didapatkan dari hasil jerih payah alias lebih halal)

pujian sang komandan itu pun dengan bangga diceritakan turun temurun oleh Y...
Y sangat bangga atas pujian itu, Y pun selalu menekankan kejujuran pada keluarganya.

kini kita ke tahun 2009..

saya minta ditemani oleh sahabat saya untuk belanja komputer untuk customer saya. saat itu banyak barang yang harus dibawa, bayangkan 15 komputer berikut monitor. saya angkat sendiri, saya panggul semua. alhamdulillah, begitu nikmatnya keringat ini mengucur dari rejeki yang halal...

jalan pulang pun macet panjang, alhasil sampai ke customer jam 9 malam. padahal dari pagi angkat2 barang.. badan kami terasa lelah..

ah, makan2 yuk ajak saya ke sahabat saya.

kemudian jam 10 malam kita makan sop kaki di kalibata, ditengah makan sahabat saya berkata,
sahabat : "dzan, sop kaki nya asin nih.."
saya : "maksudnya?"
sahabat : "ya kayak rokok bokap loe itu.. rasanya emang beda klo dari rejeki yg halal..."

masya allah...
alhamdulillah...
subhanallah..
saya tahan air mata yang mau menetes..

bro, tau ga bro.. gw nangis bro di dalem hati loe ngomong bgitu..
akhirnya gw bisa ngerasain kenapa bapak dulu sangat bangga ketika dipuji komandannya..
ya Allah, semoga ini semua bisa menjadi amalan yg memberatkan timbangan pahala hamba yg hina ini di pengadilanmu nanti..

ya Rabb, ya Rahmaan, ya Rahiim.. sayangi bapak-ku ya Allah..
lapangkan kuburnya.. permudah urusannya.. sayangi dirinya..
izinkan hamba menjadi anak yg sholeh baginya ya Rabb..

buat bapak,
trima kasih atas semua yang sudah diberikan.. ajaran tentang kejujuran dan amanah akan wahyu pegang terus, insya Allah sampai raga ini terpisah dari ruh.. amiin..
banyak hal tentang kehidupan yang mau wahyu tanya..
smoga bisa se-istiqomah seperti bapak.. amiin
i love you.. and i really miss u..

Rabbighfirliy.. wali waalidayya.. warhamhuma..kama rabbayani shagira...

(mengenang 4 tahun kepergian bapak.. this one for u ... ya Allah sayangi dia...)

2 komentar:

Adi Prayitno mengatakan...

Kalau membaca kisah semacam ini, jadi ingat orangtua sendiri yang telah merawat kami dari kecil hingga dewasa. Disaat kami berusaha akan membalas budi baik mereka sedikit demi sedikit (walau tidak mungkin bisa membalas jasa mereka seluruhnya), mereka meninggalkan kami satu persatu.

Kami sadar sesadar-sadarnya bahwa kematian dan perpisahan pasti adanya, tetapi dalam hati ini (bila boleh memilih) menginginkan tetap saja berkumpul bersama-sama mereka selama-lamanya.

Perpisahan dengan Ayah telah membuat hati kami sepi dan selalu merindukannya, beberapa tahun kemudian perpisahan dengan Ibu pun terjadi yang membuat hati ini lebih lunglai, terasa benar-benar sepi mencekam. Rindu yang sangat mendalam sampai terbawa mimpi, mereka selalu tersenyum dan berkata:" kami tahu kalian mencintai kami, kamipun demikian, jagalah diri dan sholat kalian dengan baik".

Alloh, lindungilah mereka, tempatkan mereka di tempat terbaikMu, dan kumpulkan kami semua bersama orang-orang yang sholeh.

bagi anda yang masih memiliki orang tua (Ayah/Ibu), jagalah, rawatlah, dan bahagiakanlah sebaik-baiknya, jangan ada perkataan keras dan keluh kesah dari mulut anda. Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari.

Sebagai sahabat/saudaramu, kami akan selalu mendoakan, dan selalu akan bersamamu.

Riferson mengatakan...

g enak bgt lah klo asin,,


http://rifersons06.student.ipb.ac.id