Senin, 11 Juli 2011

Bisnis populis vs tidak populis :D

Bisnis populis
- langsung bersentuhan dengan masyarakat luas (umumnya retail)
- banyak di ekspose media, baik bisnisnya maupun owner nya
- biasanya mengarah ke franchise
- owner nya biasanya merangkap jadi pembicara/motivator

Bisnis tidak populis
- berurusannya dengan perusahaan, organisasi, lembaga dll
- hampir tidak pernah di ekspose, just show me the money

Ada yang mau nambahin?
kebetulan saat ini saya berurusan dengan kedua jenis bisnis tersebut
bisnis saya yg tidak populis : bisnis IT (bersama pak dedy mengurusi konsultan, ISP, lelang/tender, hingga internet marketing di luaran (dropship, adsense), saham, property
bisnis yang populis nya : chocolata, plasaEmas, cattery

Suka duka nya :

- Bisnis tidak populis, pasang surut nya tidak terlalu terlihat. Sementara bisnis populis, sangat terlihat ketika sedang ramai/sepi

- Seperti yg dibilang diatas, bisnis populis memaksa owner nya harus jadi "seleb". wawancara majalah, radio, hingga tv, menjadi pembicara dll. ga cocok buat sebagian orang (kyk saya :D) tapi cocok bgt buat sebagian banyak orang

- Efek bola salju pada bisnis populis berlangsung cepat. Kalo kita deliver product ke customer dengan beyond expectation (pada bisnis populis), efek sebarnya hebat. word to mouth segera kemana2.. itu kabar baiknya.

- Nah, kabar buruknya, klo kita pernah mengecewakan customer (walau ga sengaja), atau produk kita jelek dan asal2an.. jangan harap repeat order. bahkan bisa bangkrut seketika bisnisnya. So, hati2 ya buat yang memilih bisnis populis.

- Kabar buruknya lagi, popularitas yg merupakan efek dari bisnis populis ini sering melenakan. Menjadi pembicara dimana2, bikin organisasi bisnis, wawancara media dll, membuat waktu kita untuk mengurusi bisnis jadi berkurang. Risiko selebpreneur, akhirnya biasanya bisnis terbengkalai. Kita harus jeli. Bukan berarti menolak sama sekali, yg penting jangan kebablasan

- Entah kenapa, klo di indonesia, sebagian besar bisnis populis sangat terkait dengan personal branding. Klo pemiliknya kenapa2, maka bisnisnya runtuh. Pemiliknya ketauan poligami, outlet nya sepi bahkan bangkrut. Padahal klo bisnis populis versi asing ga gitu ya? coba aja liat McD, KFC, Pizza Hut, peduli amat sama siapa pemiliknya :p eh tapi di indonesia jg ada, seperti Hokben, gokana-platinum, J.Co. keren!

- Klo di bisnis yang tidak populis, memang jadi kurang responsif. kejelekan perusahaan kita bisa tidak tersebar, tapi servis kita yg excellent pun jg hampir tidak memiliki efek ketok tular. Buat tipe orang yg seneng popularitas, bisnis jenis ini sangat tidak cocok :D

Bagaimana dengan bisnis anda? tipe yang populis atau tidak populis?
pahami risiko2nya, dan cari jalan keluarnya..
oke, see you on top!

4 komentar:

BhoQist BhoSky mengatakan...

Thx atas infonya ya Dzan

Yumono Labdo mengatakan...

bagus tulisannya om adzan...salam

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

@bhoqist
thanks kis..

@bos edo
waduh.. ini mah ngeledek :p

Jaket Islami mengatakan...

Artikel yang menarik dan informatif, ternyata di bisnis ini ada 2 yang populis dan yang tidak populis, sangat menarik.