Sabtu, 21 Januari 2012

Lebih cepat!


Memasuki tahun ke-8 berbisnis, seringkali mengamati jatuh-bangun nya bisnis kawan2 dekat. dan tentu saja, mengambil pelajaran darinya.

4-5thn yang lalu, melihat teman2 yg baru saja memulai bisnisnya. Mereka sama2 start dari 0 (atau bahkan minus). dan hasilnya sekarang, ada yg bisnisnya mentereng, ada yg alih bisnis, ada yang bangkrut, ada yang kembali bekerja sebagai karyawan, ada yg meninggalkan banyak hutang, dan lucunya, masih ada jg yg setia jd penonton hehe.. ya gpp, mungkin keberaniannya masih dikumpulkan.

Apa yg membedakan antara orang2 yg terlihat berhasil itu, dengan orang2 yg menyerah?

jawaban itu sy temukan ketika saya (yg masih bisnis IT), jg memasuki dunia bisnis emas dan dinar via www.plasaemas.com. Karena sy punya basic yg cukup di pasar saham (dimana pergerakan harga realtime sangatlah cepat berubah), maka sy membawa "kecepatan" itu di bisnis emas, yg juga termasuk cepat perubahan harga nya.

yes, jawaban yg membedakan itu adalah "kecepatan!"

- saya memperhatikan, ada orang cepat melihat peluang, ada jg yg lambat
- dari yg sama2 melihat peluang, ada yg bereaksi cepat, ada yg bereaksi lambat
- dari yg sama2 bereaksi cepat, ada yg reaksi nya benar, ada yg ngaco
mengapa? karena kesiapan yg berbeda, si reaksi benar itu sudah punya kesiapan matang
kesiapan matang = cepat membaca buku, dlm waktu singkat bisa silaturahmi ke banyak orang, dlm waktu singkat telah mencoba berbagai macam eksperimen (termasuk mengasah mental dagang dll)
- ada tipe org yg cepat memproses pesanan customer, ada jg yg menunda nya
- ada tipe org yg cepat mengeksekusi ide, ada yg menundanya hingga basi

Padahal dari zaman dulu, sun tzu udah mengingatkan bahwa "cepat" adalah syarat mutlak kemenangan. Secepat angin. dimana strategi itu diulang oleh Takeda Shingen dengan Furin Kazan-nya. Kecepatan pasukan Takeda kala itu tiada banding, menakutkan para musuh.

Beberapa tokoh kontemporer juga ga bosan2 mengingatkan, "si cepat bukan hanya mengalahkan si lambat, tapi si cepat juga mengalahkan si kuat!"

Bagaimana untuk menjadi lebih cepat?
mencari sebanyak2nya ilmu, dan berlatih. itu saja.

analogi yg sama adalah ketika kita bermain catur, mudah sekali mengalahkan lawan ketika kita menyiapkan 5 hingga 10 langkah ke depan. bahkan sudah memperkirakan dan siap mengantisipasi semua gerakan lawan. pertama, kecepatan berpikir!

latihan kedua adalah mengasah nurani, bisa merasakan apa yg org lain rasakan. empati. awal sy membangun bisnis www.plasaemas.com adalah empati kepada teman2 yg merasakan susahnya membeli emas batangan. begitu juga faktor keamanan, kenyamanan. Misalkan anda hobi koleksi sepatu impor, kesusahan cari sepatu yg anda suka, dan yakin banget banyak orang yg senasib dgn anda, tangkap peluang tuh, buka lapak sepatu impor. sukur2 bisa bikin industri sepatu lokal dengan kualitas impor. wah dahsyat!

Nah, apakah bisnis anda sudah menjadi solusi atas kebutuhan org lain? membantu org2 untuk memecahkan dan mempermudah keperluannya? memenuhi keinginan nya? ini adalah yg kedua, kecepatan nurani!

Carilah masalah2 yg ada disekitar atau yg ada pada diri kita, pecahkan! jadi deh bisnis :)

kemudian, keluar lah dari tempurung kita. bergaul dan berguru dengan orang2 yg layak jd role model. Misalkan anda perenang, bergurulah langsung dengan Phelps (pernah penulis jelaskan via twitter @adzan_ )memang susah memaksa Phelps jd guru kita, ya pelan2 kita ikutin kesehariannya, klo perlu bantuin Phelps bawa2 tas nya hehe hanya sekedar mau lihat cara Phelps berlatih. Sehabis itu masa Phelps ga mau kasih2 tips sih ke kita, atau malah bisa jadi mau ngajari kita di kolam. maka kita akan punya ilmu, punya visi, yg ga akan dipunyai perenang amatiran kelas kelurahan. kecepatan visi!

dalam hal bisnis, termasuk kecepatan visi adalah berjalan keliling dunia untuk membandingkan kemajuan n tren antar negara, mempelajari sistem bisnis perusahaan multinasional, perhatikan manuver2nya, visi nya, dll. Tanggung klo belajar sama perusahaan tingkat kelurahan..

Termasuk jg belajar bisnis dgn yg benar2 telah teruji dan berhasil. mau bisnis pembesaran ikan, tp belajarnya sama pengusaha batubara.. ya kurang optimal.. apalagi sama orang2 yg ga punya bisnis (atau cuma ngaku2 punya bisnis) ya tambah ngawur. Ingatlah pepatah, Guru akan datang ketika murid sudah siap..

kecepatan visi ini penting, karena kita akan memiliki arah dan tujuan besar, yg kebanyakan orang2 atau kompetitor belum melihat kesana. Inget kan kata pak Jusuf Kalla, Lebih Cepat Lebih Baik!

Berlatih terus, dan berlatih lagi.. hingga kita siap ketika datang momentum, kita harus menjadi yg tercepat, dan tersiap.

setelah itu barulah kecepatan bertindak. makin banyak beban yg dibawa, semakin kurang leluasa bergerak. seperti membawa pasukan cavalery yg sangat berat, gerak pasukan menjadi lambat. atau seperti prajurit yg berperang sambil menggendong anaknya, tentu saja lebih mudah dikalahkan...

Bisnis kita haruslah yg tercepat pada bidangnya..
karena itu, lepaskan beban2 berat, misalkan
- fokus di cashflow jgn tergoda di aset (misalkan lebih memilih utk sewa ruko drpd untuk membeli nya). gerak bisnis akan lebih leluasa
- fokus cashflow, tidak menumpuk hutang
- eliminir kegiatan2 lain yg tidak berhubungan dengan bisnis kita, atau tidak membuat bisnis kita menjadi berlari kencang. misalkan bikin acara sosial terlalu banyak (serahkan ke EO sajalah..) ini sudah banyaklah temen2 yg membuktikan :) sehabis fokus hanya di bisnis, tiba2 bisnis melejit!
- ada senior yg mengatakan, duduk jagain kantor kita, toko kita, itu jauh lebih bernilai daripada mengikuti 10x seminar2 motivasi bisnis.
- personal branding pun bisa menjadi "beban" berat. semuanya akan bergantung dan berpusat pada diri kita. so, mulai kurangi personal branding, tapi tonjolkan brand produk/perusahaan kita. biarlah produk kita yg terkenal, ga penting pemiliknya mau dikenal orang2 apa ngga. contoh beban personal branding : "ih kok bapak ga naik mercy sih, pdhl kan karyawan udah ratusan" bisnis jd susah gerak tentunya
- fokus hanya di satu bisnis (yg ini, sy pun masih belajar). kalaupun membuka bisnis baru, yg masih berkaitan dan saling men-support dengan bisnis lama.
- kecepatan sangat bergantung pada keberanian
- kecepatan akan berhasil optimal ketika proses-proses nya telah sesuai prosedur (kesiapan matang, banyak berlatih, dan berbagai faktor pendukung)
- termasuk bergerak cepat adalah ketika kita jatuh terpuruk, tapi kemudian mengambil pelajaran, dan terus berusaha.

Kesimpulan,
Pesan pak Haji alay, pesawat tidak akan mau mendarat kalau landasan tidak kokoh. bisa ambrol itu landasan yg abal2 kalau menahan pesawat. So,

Terus berlatih meningkatkan kecepatan dan kapasitas -> momentum datang -> action -> hasil maksimal -> tingkatkan target/cari guru yg lebih lagi -> berlatih lebih -> momentum lebih besar datang -> action -> hasil lebih maksimal.. begitu seterusnya.

Masa baru segini aja udah puas?
kapan mau ngejar Bill Gates, Warren Buffet, atau pak chairul tanjung?
Masih lambat!
untuk menjadi yg terbaik,
Jangan menunda pekerjaan!
Ayo, Lebih Cepat!

salam,
@adzan_
adzan101.blogspot.com