Senin, 10 Desember 2007

Ketika Mundur Menjadi Pilihan Terbaik...

Pada era musim semi dan musim gugur, Jenderal Zi Yu dari negara Chu memimpin empat negara yang lebih kecil untuk menyerang negeri Jin. Dengan alasan pernah berhutang dengan negeri Chu, Jin Wengong dari negara Jin memutuskan untuk mundur. Ia memerintahkan pasukannya untuk mundur sejauh 90 li. Wilayah tanah yang lapang dicari pasukan Jin adalah tanah yang lapang dan menanti waktu unutk bergerak.

Setelah mundurnya pasukan Jin, tentara sekutu yang lebih lemah terpancing untuk bergerak maju dan mudah untuk mengalahkan tentara musuh. Pasukan Jin pun mundur lebih jauh lagi, memancing pasukan Chu untuk mendekat dan kemudian pasukan Jin malah berbalik mengepungnya. Akibatnya tentara Chu mengalami kekalahan besar. Pada saat Zi Yu menyadari apa yang terjadi, pasukan utama telah terkepung dan mengalami kekalahan besar.

Jin Wengong memilih untuk mundur dan menunggu kesempatan untuk menyerang. Ia meraih kesempatan dan mendapatkan kemenangan akhir. Seluruh pasukan mundur dan menantikan waktu untuk menyerang kembali agar dapat menghindari konfrontasi dengan musuh yang lebih kuat.

Contoh kasus kontemporer adalah ketika tahun 1964 Matsushita Company tiba-tiba mengumumkan bahwa perusahaan akan berhenti membuat komputer. Padahal semua orang tahu Matsushita telah menjalani usaha itu selama lima tahun dan berinvestasi ratusan juta yen untuk riset. Tapi mereka tetap keukeuh, alasannya karena persaingan pasar PC sangat ketat. Selain itu, pasar Amerika yang besar praktis dimonopoli oleh IBM, bahkan pasar Jepang yang kecilpun ada tujuh perusahaan yang rebutan "kue" itu seperti Fujitsu dan Hitachi. Akhirnya Grup Matsushita tetap menjadi yang terdepan di Jepang walau meninggalkan persaingan di pangsa komputer.

Hal ini yang pernah kami alami di berbagai macam bisnis kami. Kami memang pernah mundur dari toko komputer di Mangga Dua Square, kami memang pernah gagal di Agrobisnis baik gula merah ataupun perikanan, kami pernah gagal juga di bisnis pijat refleksi. Tapi apa kami kalah? justru kami akan kalah jika nekat mempertahankan bisnis-bisnis yang gagal itu. Semua daya, tenaga, waktu, uang, pikiran akan terserap habis untuk hanya sekedar mempertahankan bisnis yang ada, hanya sekedar mempertahankan gengsi (malu sama teman-teman jika sampai gulung tikar). Ketika ada peluang lain yang lebih baik kenapa tidak? apalagi kembali ke core bisnis lama yakni jasa setup warnet dan franchise warnet Alphanet dan juga ISP kami yang kini sedang asyik dengan RTRWnet nya yakni Net-Cyber

So, tentukan visi anda. Kenali bisnis anda. Jika memang sudah tidak prospek dan tidak ada semangat untuk berjuang, maka jangan malu untuk meninggalkan.


adzan101.blogspot.com

1 komentar:

Mentari mengatakan...

tapi jangan terus mundur sampai terjatuh kaya negeri kita ya bang, saya juga sedikit gamang maslahnya saya g da darah dagang, tapi saya lagimulai keci kecilan

pagi-mentari.blogspot.com