Minggu, 02 November 2008

Kisah lain Thalhah (3) gara2 ada yg request...

Hijrah ke Madinah


Bendera misi dagang Thalhah semakin berkibar. Armadanya semakin besar. Di Bushra, Thalhah adalah salah satu saudagar yang sangat dihormati. Walaupun demikian, ia tidak pernah kehilangan kontak dengan Rasulullah. Para anak buahnya selalu bersedia menjadi pembawa pesan bagi keduanya. Hanya sesekali ia pulang ke Makkah. Dan satu-satunya tujuan adalah untuk menemui Rasulullah. Menimba ilmu dan mendengarkan firman-firman Allah sehingga keimanannya semakin tebal.

Ia paham tentang adanya boikot orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin, yang menyebabkan saudara-saudara seimannya harus hidup dalam kondisi memprihatinkan. Ia pula yang diam-diam mengirimkan sejumlah bahan makanan kepada saudara-saudaranya itu. Ia juga tahu persis ketika beberapa sahabatnya harus hijrah ke Habsyi untuk menghindari penghinaan dan penyiksaan dari orang-orang Quraisy. Di antaranya adalah Zubair, yang masih bertalian darah dengannya. Di sisi lain, ia juga tahu persis kabar Islamnya Umar bin Khattab. Semua itu diketahuinya tanpa harus meninggalkan Bushra.

Ketika Thalhah membutuhkan orang yang bisa dipercaya dan mampu membantunya mengelola armada dagangnya, ia tidak ragu memilih Zubair. Ketika itu Zubair baru kembali dari Habsyi dan menikah dengan Asma binti Abu Bakar. Dan keduanya pun bergabung. Bahu membahu membesarkan armada dagangnya. Rasulullah tahu ihwal kedekatan Zubair dan Thalhah, dan memperkuat persaudaraan keduanya.

Ia juga mendengar berita diutusnya Mush’ab bin Umair ke Yastrib. Tugasnya adalah mempersiapkan Yastrib menjadi tempat tinggal bagi kaum muslimin yang menyingkir dari Makkah. Kehadirannya diterima oleh hampir seluruh penduduk Yastrib. Memang tidak seluruhnya mulus, tetapi berbagai masalah yang muncul bisa diselesaikan tanpa harus menghunus pedang atau menumpahkan darah. Hanya dalam waktu singkat, ia berhasil membangun sendi-sendi keberagamaan dan kemasyarakatan di sana. Sampai akhirnya Thalhah mendapat berita, bahwa Rasulullah memerintahkan para pengikutnya untuk hijrah ke Madinah, nama baru untuk Yastrib.

Dengan gembira Thalhah segera kembali ke Makkah. Dibawanya serta sebagian harta yang diperolehnya dari perniagaannya di Bushra. Tetapi ia tidak bisa bertemu dengan Rasulullah ketika tiba di Makkah. Ketika itu, Rasulullah sudah tiba di Madinah bersama Abu Bakar. Di Makkah, ia hanya bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan dua puteri Rasulullah, yaitu Fatimah dan Zainab. Ali adalah orang yang dengan keberanian luar biasa, bersedia menggantikan Rasulullah.

Padahal kediaman Rasulullah sudah terkepung rapat oleh orang-orang Quraisy. Atas izin Allah, para pengepung yang haus darah itu terlelap. Di saat yang sama, Rasulullah berangkat ke Madinah bersama Abu Bakar. Menjelang fajar mereka terjaga dan hanya menemui Ali sedang tidur di ranjang Rasulullah.

“Mengapa kalian belum berangkat ? Bukankah saat ini merupakan saat yang gawat bagi kaum muslimin, apalagi bagi keluarga Rasulullah ?” tanya Thalhah.

“Benar. Itu lah sebabnya kami masih menunggu orang yang bersedia menemani dan melindungi kami menuju Madinah,” jawab Ali.

“Baik. Aku bersedia. Sebentar lagi Zubair dan istrinya akan tiba. Kita akan berangkat bersama-sama !” kata Thalhah.

Tak lama kemudian, Zubair datang bersama istrinya, Asma binti Abu Bakar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka pun segera berangkat menuju Madinah. Menyusuri jalan-jalan yang tidak biasa dilalui oleh umum, hanya untuk menghindari kejaran orang-orang Quraisy yang bermaksud mencelakakan mereka.












Absen di Badar


Hijrahnya Rasululah dan segenap umat Islam dari Makkah ke Madinah ternyata tidak mengurangi kebencian orang-orang Makkah yang mengingkari Rasulullah. Bahkan orang-orang Makkah itu seperti merasa kehilangan kegiatan rutin mereka. Ketika orang-orang muslim masih tinggal di Makkah, mereka kerap melakukan penghinaan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin yang miskin seperti Keluarga Yasir atau Bilal bin Rabah. Bahkan Mush’ab bin Umair, Zubair bin Awwam maupun Thalhah bin Ubaidillah yang merupakan keturunan orang terpandang di Makkah, harus mengalami hal yang sama.

Para pemuka Quraisy menyebarkan orang-orangnya untuk melakukan aksi-aksi teror untuk mengganggu aktivitas kaum muslimin. Mereka juga menyebar fitnah di kalangan penduduk Yahudi di sekitar Madinah, yang sangat merugikan citra Rasulullah dan para pengikutnya. Aksi-aksi itu pada akhirnya juga menyulut kebencian penduduk Yahudi terhadap kaum muslimin. Dan kebencian itu lah yang dimanfaatkan untuk menambah kekuatan tempur orang-orang kafir Quraisy. Mereka bersatu memerangi kaum muslimin.

Situasi itu menyebabkan kaum muslimin harus siap untuk menghadapi serangan dari orang-orang yang memusuhi mereka.

Seluruh kaum muslimin, baik Anshar maupun Muhajirin, saling bahu-membahu mempersiapkan segala kebutuhan. Masing-masing berfungsi berdasarkan kemampuan mereka. Orang-orang tua dan kaum perempuan mengumpulkan aneka bahan makanan yang akan diperlukan sebagai perbekalan. Anak-anak muda dan orang dewasa giat berlatih memanah, memainkan tombak, berpedang atau pun menunggang kuda. Semuanya sejalan dalam pemikiran, sebuah serangan tidak akan terlalu berat dirasakan apabila semua orang merasa siap menghadapi serangan itu.

Menjelang pecahnya perang Badar, Thalhah diperintah oleh Rasulullah untuk pergi ke Bushra untuk sebuah misi khusus. Ia ditemani oleh Sa’id bin Zaid. Pada waktu itu, Thalhah sudah mendengar berita tentang pergerakan pasukan Quraisy dari kota Makkah menuju Madinah. Tidak ada maksud lain kecuali untuk menyerang kaum muslimin. Dan itu menjadi alasan bagi Thalhah untuk menunda keberangkatannya ke Bushra. Ia ingin sekali berjihad memerangi para musuh Allah.

Keinginan Thalhah untuk bertahan di Madinah tidak bisa berlanjut. Misi ke Bushra dianggap Rasulullah sangat penting, dan hanya Thalhah lah orang yang tepat untuk melaksanakan misi itu. Dan hal ini memang diakuinya. Pengalaman bertahun-tahun berniaga di negeri itu, menyebabkannya tahu betul perilaku orang-orang di Bushra. Di sisi lain, kekuatan kaum muslimin di Madinah, walaupun jumlahnya belum banyak, tetapi tidak bisa diremehkan begitu saja.

Dan Rasulullah adalah panutannya. Apapun yang diperintahkan, dianggapnya sebagai hal yang terbaik baginya. Keinginan untuk berjihad di Badar terpaksa diurungkan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera berkemas, menyiapkan segala kebutuhan selama di Bushra. Bersama Sa’id, ia menemui Rasulullah untuk pamit meninggalkan kota Madinah.

“Assalaamu ‘alaikum Wahai Rasulullah,” salam Thalhah dan Sa’id di muka pintu rumah Rasulullah.

“Wa ‘alaikum salaam warahmatullahi wabarakaatuh,” sahut Rasulullah dari dalam rumahnya. Tak lama kemudian, terdengar derit pintu yang sedikit demi sedikit terbuka. Wajah Rasulullah yang cerah pun muncul di hadapan keduanya. Ketiganya pun masuk ke dalam rumah.

“Apa maksud kalian menemuiku ?” tanya Rasulullah.

“Kami ingin pamit meninggalkan Madinah dalam rangka memenuhi perintahmu untuk pergi ke Bushra. Siang ini, usai Dzuhur kami akan berangkat. Kami semua mohon do’a untuk keberhasilan misi kami,” papar Thalhah.

“Aku selalu berdo’a untuk keberhasilan dan keselamatan kalian. Jangan terlalu memikirkan serangan dari orang-orang Quraisy. Insya Allah kami akan berhasil mengatasi serangan mereka. Berkonsentrasi lah pada tugas-tugas kalian. Aku berharap kalian bisa kembali ke Madinah dengan keberhasilan,” kata Rasulullah.

“Kami tidak ingin berlama-lama. Perjalanan ke Bushra cukup jauh. Sekarang kami mohon pamit. Sekali lagi, do’akan kami,” kata Thalhah sambil berdiri. Sa’id mengikutinya.

“Baiklah. Do’akan juga kami yang tinggal di Madinah. Semoga kita semua selalu dalam perlindungan Allah. Insya Allah kita akan bertemu lagi suatu saat nanti,” kata Rasulullah sambil berdiri. Dipeluknya Thalhah dan Sa’id secara bergantian. Setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Rasulullah.

* * * * *

Perang Badar sudah usai. Kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gilang gemilang, walaupun kekuatannya hanya sepertiga dari jumlah pasukan Quraisy. Sebagian sahabat syahid di medan Badar, sebagian lagi kembali ke Madinah dengan berbagai luka menghiasi sekujur tubuhnya.

Bersamaan dengan kembalinya pasukan kaum muslimin ke Madinah, Thalhah dan seluruh anggota rombongannya pun kembali dari Bushra. Mereka pulang dengan wajah yang berseri-seri. Misi yang mereka jalankan berhasil dengan baik.

Keceriaan Thalhah dan kawan-kawannya seketika berubah menjadi kesedihan, begitu mereka berpapasan dengan pasukan yang baru pulang dari medan Badar. Padahal mereka yang tergabung dalam pasukan itu pulang dengan pakaian yang compang-camping dan badan penuh luka karena sabetan pedang dan tusukan anak panah.

Thalhah, dan anggota rombongan ke Bushra lainnya, sebenarnya iri melihat kawan-kawan mereka yang tergabung dalam pasukan perang Badar. Mereka rindu berjihad membela panji-panji kebesaran Allah. Tugas dari Rasulullah menyebabkan mereka absen di Badar.

Kesedihan Thalhah dan kawan-kawannya diketahui Rasulullah, yang dengan segera menghibur mereka. Hal itu diutarakan Rasulullah ketika mereka berkunjung ke rumah Rasulullah untuk melaporkan keberhasilan misi mereka.

“Ku dengar kabar keberhasilan misimu, wahai Thalhah. Aku sangat bergembira sekali. Mudah-mudahan apa yang sudah kalian capai bisa menjadi dasar bagi hubungan perdagangan kita dengan Bushra,” kata Rasulullah.

“Alhamdulillah. Allah telah melancarkan seluruh misi kami untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Bushra. Kami telah berhasil membuat beberapa kesepakatan dagang yang saling menguntungkan bagi kita dan juga bagi masyarakat Bushra,” kata Thalhah.

“Kami juga turut bergembira dengan kemenangan pasukan kita dalam perang Badar. Cuma kami agak kecewa, karena kami tidak bisa ikut dalam pasukan itu,” kata Thalhah.

“Beberapa kawan seperjuangan harus syahid di Badar. Mereka bisa menghadap Allah dengan wajah berseri-seri. Oh. Betapa bahagianya mereka,” lanjut Thalhah.

“Jangan khawatir Thalhah. Apa yang sudah kalian lakukan di Bushra, sama pahalanya dengan apa yang dikerjakan saudara-saudara kita di medan Badar. Bahkan kalian pun sebenarnya berhak atas harta rampasan perang Badar,” kata Rasulullah.

“Kami tidak iri sedikit pun seandainya kami tidak mendapat bagian dari harta itu. Yang membuat kami iri, para syuhada itu secara langsung mendapat ganjaran surga,” jawab Thalhah.

“Jika itu yang kalian inginkan, ketahui lah. Keikhlasan kalian semua membela panji-panji kebesaran Allah, insya Allah akan dibalas dengan surgaNya.,” kata Rasulullah. Kata-kata itu berhasil menentramkan rasa gundah di hati Thalhah dan kawan-kawannya. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan hati gembira.

* * * * *

bersambung..
crita selanjutnya, Thalhah di perang Uhud

Tidak ada komentar: