Jumat, 10 April 2009

Semudah itu.. (untuk menjadi pengusaha)

Pada suatu hari kedatangan sepupu dari Malang yang kini menetap di Kebumen. sang sepupu bosan bekerja dengan orang lain, tekadnya sudah bulat menjadi pengusaha. Maklum, tuntutan hidup membesar, anak sudah 4thn dan butuh susu hehe

sepupu saya itu telah memilih untuk DO dari Teknik Informatika ITB

sore itu saya ajak ketemu Om Bob Sadino dan Bang Jay
(walah enak bgt ya belom2 udah ketemu dua coach hebat.. dulu mah ane kaga begini)

Om bob langsung berkelakar,
"wong kebumen? kepriwe kiye'"
"Bagus mas sudah memilih DO, karena yg dikampus itu isinya sampah semua. Anda harus berterima kasih kepada pak rektor karena telah membuat anda memilih DO. Jalan hidup anda segera berubah"

sepupu saya bertanya,
"lalu saya mesti gimana om?"

om bob menjawab,
"seorang sarjana akan malu untuk menjual koran, tapi tidak untuk anda. karena anda telah memilih DO. Anda jual koran sekarang, jangan pikir hari esok, tapi lihat diri anda 40thn kemudian! anda bisa lebih dari seorang Bob Sadino!"

"seorang sarjana hanyalah sampai batas TAHU, sementara orang anda harus masuk kuadran BISA. mulai lah jualan koran ke rumah2, pelanggan anda akan menjadi 20 orang, 40 orang, lalu anda akan menjadi agen koran, kemudian distributor, mungkin malah akan punya percetakan sendiri!"

"ga usah berencana mas, jalankan saja"

Sepupu saya itu berpaling ke Bang Jay..

"usaha apaan ya Bang?"

Bang Jay berkata
"lu kerjain aja usaha yg lu suka, dan terus disitu sampe 10 tahun. jangan pindah2 usaha!"
"Bikin aja tempat makan, dengan konsep bla bla bla (konsep dirahasiakan hehehe)"

si sepupu menjawab
"Aku mau aja ngerjain yg aku suka, cuma untuk susu anak-ku gimana bang?"

Bang Jay membalas
"ngasong aja. gw pikir sih klo nyari 25rb sehari bisa-lah dari ngasong. nah, sehabis ngasong kan mungkin masih ada sisa waktu 5 jam sehari tuh. lakuin deh yg lu suka!"

waw...
semudah itu ya...
seandainya semua orang bisa bgitu, tentu indonesia sudah sesak dengan pengusaha.

intinya kita hidup cukup2 aja dari ngasong, sisa waktu bisa kita gunain sesuai passion kita. dijamin bisnis pasti sukses.

sepupuku itu masih ga puas, pulang dari sana lanjut diskusi abis2an di rumah.
tapi tekadnya sudah bulat untuk tidak bekerja
tekad khas arema

smoga dalam waktu tidak lama segera lahir pengusaha mapan asal kebumen, amiin

24 komentar:

Andi Paturusi mengatakan...

sy cuma mau mengomentari bahwa.., sepupu anda termasuk orang yg konyol.., tanpa mengukur diri. ingat tidak semua orang seperti sepupu anda bisa langsung seperti bob sadino, walaupun demikian kemungkinan tetap anda. Pendidikan tidak hanya membuat TAHU, tetapi banyak ilmu bisa di dapat disamping relasi untuk pengembangan bisnis kelak. Anda jangan liat satu sisi saja, cukup banyak orang yg berpendidikan menjadi pengusaha hebat mis. Sandiago Uno, Chairul Tanjung, Erwin Aksa. mereka semua dapat memaksimalkan pendidikan yg telah diperoleh. Bahkan sekarang ini tidak sedikit masyarakat tionghoa yg menyuruh anak2-nya untuk sekolah tinggi2. jd sy pikir anda jangan gegabah dalam menentukan nasib.

Rudi_hartono mengatakan...

wah sesama wong banyumas raya saya tersinggung saudara saya dibilang konyol..

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

jd sy pikir anda jangan gegabah dalam menentukan nasib.(andi paturusi)

emang siapa yg menentukan nasib pak :)

banyak orang hebat jadi pengusaha dgn pendidikan.. setuju pak..
tapi banyak juga lho orang hebat yg ga sekolah?
Bill Gates, Steve Jobs, dll

bisa aja donk saling klaim hehe

ya intinya cuma waktu kok yg bisa buktiin,

masa' iya saya doain sepupu saya untuk tidak sukses? ga mungkin toh pak

Michael Sutawijaya mengatakan...

sy sependapat dengan pak andi, bukan berarti sy tidak setuju dengan pendapat pak adzan,kita mesti liat dulu kasusnya. memang betul yg anda katakan "banyak orang kaya yg tidak sekolah"..,memang saya akui itu. tapi zaman sekarang ini, kita mesti realistis., sangat jarang pemuda saat ini punya mental baja , seperti pengusaha2 dahulu yg tidak mengenyam pendidikan. saya sempat bertanya dengan pengusaha (raja kapal) disamarinda, walaupun dia tidak mengenyam pendidikan, tapi dia menganjurkan untuk tetap melanjutkan sekolah, dan saat ini anaknya yg telah tamat S-2 yang melanjutkan usahanya semakin besar.

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

dear pak michael..

coba deh liat lagi tulisan saya..
yg blg ga perlu sekolah itu om bob, bukan saya..

bagi saya, orang sekolah bisa sukses

orang yg ga sekolah, jg bisa sukses.

itu aja..

@ pak andi
saya pun ngerasain sekolah kok pak,
cuma klo kata pak andi banyak ilmu yg didapat di sekolah plus relasi bisnis... ya saya jawab bgini..

jujur pak, ilmu yg saya dpt disekolah itu lebih sedikit daripada ilmu yg saya dpt di jalanan..

dan relasi bisnis saya ketika kuliah hampir tidak ada, relasi bisnis saya yg skrg saya temui di jalanan..

saya ga bilang cara saya bisa dipake semua orang, tapi saya jg ga mengatakan orang yg bersebrangan dgn saya dgn ungkapan "konyol"..

tapi tenang aja pak, di bilang goblok pun saya ga masalah.. nyatanya dgn "goblok" itu saya jd ga takut hadapi sesuatu :)

biar waktu yg membuktikan, akan jadi apa kita di 20-30thn ke depan..

Ade Aan Wirama mengatakan...

Saya tidak sependapat dengan Om Bob, karena pendidikan tidak dibuat dengan tujuan hanya untuk menjadi sampah atau menjadi tidak berguna. Pendidikan membuat kita mengerti dan bisa, tapi bukan secara otomatis menjadi berpengalaman. Pengalaman kita dapatkan dari luar sekolah. Gabungan ini kita perlukan.

Dan tidak semudah itu menjalankan usaha dengan asal jalan atau dengan semudah yang dikatakan bang jay yaitu ngasong aja untuk susu anak. Di jalanan itu lebih parah dan tantangan dari segi mental jauh lebih besar (been there done that).

Usaha tanpa rencana layaknya kucing yang dikasih balsem di pantatnya, muter nggak karuan, nggak ngerti arah mau kemana dan lain sebagainya. Om Bob kalo memang betul tanpa rencana, KemChick tidak akan berdiri di plaza2 besar, tapi coba taruh di daerah rawan bencana atau rawan kerusuhan.

Orang yang tidak sekolah bisa sukses karena memiliki kecerdasan diatas rata-rata atau memiliki pelajaran bisnis udah sejak kecil (karena kepepet), jadi tolong dipelajari betul2 asal usul atau latar belakangnya.

Saya khawatir kalo kita menelan mentah2 saran-saran dari Om Bob dan bang Jay, lama2 bangsa Indonesia penuh sesak dengan pengasong, orang stress, hanya bisa sukses di wilayah sendiri tidak memiliki kekuatan untuk dipasarkan di luar negeri dan dilecehkan oleh bangsa lain.

So bos Adzan, saya bersedia diperkenalkan dengan sodara sampeyan (sesama arema), nanti saya share pengalaman saya ketika bangkrut dengan hutang sangat besar sekali yang salah satu penyebabnya karena TANPA RENCANA.

Best Regards,
Ade Aan Wirama
www.adeaan.com
www.jsoftindonesia.com

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

mencoba menanggapi pak ade dari alur berpikir om bob..

karena pendidikan tidak dibuat dengan tujuan hanya untuk menjadi sampah atau menjadi tidak berguna (ade aan)

kata siapa sampah ga berguna bos? sampah masih bisa jadi pupuk, masih bisa di recycle.

knp om bob ga buka kem chick di daerah bencana?

harusnya pak ade paham sejarah om bob, awalnya blio jual telor di daerah tempat dia tinggal. tanpa rencana lokasi

yg kepikiran yah yg terdekat aja. betul toh?
kemudian dari telor, dia bisa bikin farm ayam broiler. pada titik itu, om bob sudah punya tim ahli dan juga CEO perusahaannya..

jadi yg punya rencana itu ya CEO nya..
bukan om bob atau kita nya as an entrepreneur

klo memang teori rencana itu tokcer, lalu buat apa orang2 itu buat plan A plan B dll.. brarti rencana hanyalah rencana

yg lebih penting adalah melangkah!

Ade Aan Wirama mengatakan...

>> kata siapa sampah ga berguna bos?

Nah itu dari apa yang diucapkan Om Bob, bahwa yang di kampus itu sampah semua, sehingga mengesankan tidak berguna, jadi keluar aja dari kampus alias DO.

>> Jadi yg punya rencana itu ya CEO nya.. bukan om bob atau kitanya as an entrepreneur

Nah pada waktu rekrut si CEO, pastinya Om Bob udah punya rencana untuk rekrut kan? kenapa nggak dijalankan sendiri aja? jadi namanya rencana itu tetap digunakan oleh Om Bob, hanya saja Om Bob belum tau bahwa itu namanya RENCANA hahaha...

>> klo memang teori rencana itu tokcer, lalu buat apa orang2 itu buat plan A plan B dll.. brarti rencana hanyalah rencana.

Apabila dibuatkan Plan B, Plan C, diluar Master Plan nya sendiri adalah karena kita menyadari bahwa kita bukanlah makhluk sempurna dan bukan Tuhan, sehingga ketika Tuhan berkehendak lain, kita sudah siap dengan jawabannya.

>> yg lebih penting adalah melangkah!

Yang satu ini saya setuju, ACTION lebih penting, tapi ACTION tanpa rencana seperti yang disarankan om Bob atau Bang Jay, saya tetap tidak setuju.

Best Regards,
Ade Aan Wirama
www.adeaan.com
www.jsoftindonesia.com

benny mulyoleghowo mengatakan...

sedikit inpo ajah...
sekolah--->bisa sukses
tidak sekolah--->bisa sukses
orang banyumas--->bisa sukses
orang kebumen--->bisa sukses
orang medan--->bisa sukses
yang penting semua itu harus dijemput rejekinya bukan ditunggu...
ayo action sekarang jangan ditunda..!!!
"nyong wong banymas lagi nunggu sukses kiyeh...!!!

Agus MuplA mengatakan...

hmmm rame juga nih... menurut sy sih statement Om Bob itu sebijaknya tidak kita telan mentah-mentah...
kita ambil "benang hijau"-nya : menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal adalah sangat diperlukan - tapi apabila kita "terkerangkeng" dalam pola yg "biasa" :(sekolah -> lulus -> cari kerja -> kerja sbg karyawan) hasilnya mudah ditebak...
nah sekarang : sepupu Mas Adzan menurut sy mengambil pilihan keluar dari zona biasa dan masuk zona "luar biasa", zona critical, zona kepepet yg penuh tekanan : merintis usaha dari nol besar, mempertaruhkan dan mencurahkan segala kemampuannya, hasilnya? SULIT DITEBAK... kalo sukses yah akan SUKSES BENERAN kayak Om Bob, kalo jeblok yah jeblok beneran... tapi selama masih ada waktu, pasti akan berusaha terus hingga KESUKSESAN bisa DIRAIH...
So, maju teruuussss... situasi seperti ini sering dialami ORANG-ORANG SUKSES, seperti Steve Jobs, Bill Gates, dll.
Jika bisa dioptimalkan, sepupu Mas Adzan akan merasakan The Power of Kepepet...

Dimas mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dimas mengatakan...

Tiap tiap orang punya filosofinya masing masing. Tiap tiap orang pun punya gayanya masing masing. Kadang orang kebanyakan rencana lama lama nggak jalan. Kadang orang yang gak punya rencana tapi Actionnya kuat dan mau belajar justru yang berhasil. Kalo dari pandangan saya sih, Jangan terlalu banyak berencana namun banyaknya mengambil pelajaran dan perbaikan kita dari action itu. Mungkin itu yang membuat orang-orang besar berhasil. doubleAction-belajar-perbaiki. Ato belajar-double action-perbaiki. yang manapun boleh. Intinya lebih banyak actionnya.
setahu saya sih DARI PENELITIAN MANAPUN KITA AKAN JAUH BISA BELAJAR DARI ACTION YANG KITA AMBIL BUKAN DARI SEKEDAR RENCANA DAN RENCANA. dan de power of kepepet. Emang maknyos pak Agus.

rinaldi mengatakan...

Mungkin yang orang sayangkan, kenapa terkesan terburu-buru, padahal masih punya tanggungan anak yang harus dipenuhi hak nya. Kalau menurut saya, asal benar-benar belajar, jangan hanya modal nekat, dan dengan tidak melupakan hak si anak, tidak menjadi masalah.

fico mengatakan...

huehue.. rame oi blog nya..
wah kalau saya tidak mau pro atau kontra.. menurut saya setiap orang bisa jadi kaya, jalan nya.. ya cari sendiri... jalan setiap orang beda beda... baik sekolah maupun tidak.. dua duanya adalah faktor yang mempengaruhi.. dua duanya bisa bikin sukses atau tidak.. tergantung bagaimana manusia menggunakannya...

mau berguru sama om bob yang katanya ilmu ngga sekolah. ya silahkan.. saya yakin bisa sukses...
mau berguru sama sandiaga uno. yang ip nya ampe 4.. saya yakin juga bisa sukses..

masalahnya adalah.. hasil berguru tersebut di action kan atau tidak..
DIlakukan atau tidak...
dikerjakan atau tidak...
dilaksankan atau tidak...

kalau dikerjakan, dilakukan, dilaksanakan, take action.. pasti berhasil.. walau dalam proses perjalannya ada kegagalan.. asal mau mengambil hikmah dan kembali take action.. pasti sukses... Amin

salam sukses
fico humam maulana
Lakukan gerakan “Pay It Forward” dimulai dari Anda sekarang juga. Hasilnya? Biarkan puluhan ribu orang, karangan bunga, dan generasi berikutnya mengenang Anda ketika nanti saatnya tiba. Dan yang paling penting, Tuhan-pun bangga dengan Anda.

Indra mengatakan...

setuju dengan pak fico, tapi kalo saya liat nih, karena "mungkin" nih ya.., pak adzan muridnya om Bob, pastinya pak adzan akan berpihak ke om bob.., sory nih ya pak adzan.. hehe..., yang jelas saya punya sudut pandang lain. semua orang bisa sukses, cuma yg sesalkan om Bob selalu menganggap negatif orang yg melanjutkan sekolah. selama ini kita selalu di beri contoh orang2 yg kaya yang tidak sekolah seperti Om Bob, bill Gates. coba sekali-sekali di bahas sepak terjang pengusaha-pengusaha handal yang mengenyam pendidikan, seperti Ir.Ciputra. dan masih banyak lainnya. tentu akan lebih seimbang. .

Zainal Abidin mengatakan...

@ Paturusi : Dalam perjalanan hidup, saya pernah mengenal sosok manusia bernama Legson Kayira. Dia lahir sebagai anak miskin di sebuah desa kecil, jauh dari pusat keramaian di Afrika, bercita-cita menempuh pendidikan terbaik di Amerika Serikat. Konyol? Tentu. Wong untuk ke ibu kota negaranya saja, ia harus menempuh perjalanan berhari-hari menembus hutan belantara. Tidak ada kendaraan. Semuanya harus ditempuh dengan berjalan kaki. Konyol? Tentu. Karena Kayira mau menempuh perjalanan berat itu dengan berjalan kaki, hanye berbekal sedikit makanan dan sebilah kapak. Konyol?
Ternyata tidak. Berkat upayanya, ia sekarang menjadi profesor di Cambridge University. Konyol? Sudah tidak lagi. Konyol sudah berubah jadi cerdas. So, plis jangan menilai niat seseorang. Yang terpenting adalah apa yang ia lakukan setelah ia punya niat.
Ingat tidak semua orang seperti sepupu anda bisa langsung seperti bob sadino, walaupun demikian kemungkinan tetap ada? Ini statemen berbahaya. Bob Sadino lahir tidak langsung kaya. Bahkan sempat menempuh jalan memiskinkan diri. Bob Sadino seperti itu tidak dari sononya. Ada proses yang harus dilalui. Siapapun yang bersedia menempuh proses seperti yang beliau lakukan, insya Allah bisa seperti beliau. Bahkan melebihinya. Jangan under estimate duluan dong. Seolah anda sudah bisa meramal ahir kehidupan seseorang.

@ Ade Aan Wirama : Coba baca kembali statemen anda. Saya khawatir kalo kita menelan mentah2 saran-saran dari Om Bob dan bang Jay, lama2 bangsa Indonesia penuh sesak dengan pengasong, orang stress, hanya bisa sukses di wilayah sendiri tidak memiliki kekuatan untuk dipasarkan di luar negeri dan dilecehkan oleh bangsa lain. Justru anda telah menelan mentah-mentah ide kami. Ngasong, adalah pintu pertama, dan masih banyak pintu-pintu yang lain. Bob Sadino jualan telur, karena itu yang bisa dilakukannya di awal usaha. Kalau akhirnya ia bisa jadi eksportir ke berbagai negara, itu karena beliau belajar. Dan perlu diingat, belajar bukan cuma di sekolahan. Saya tidak menyarankan orang untuk ngasong seumur hidup. Ngasong, sekali lagi bukan satu-satunya. Tapi saya lebih senang negeri ini jadi negeri pengasong daripada jadi negeri penganggur.

So, memang enak jadi penonton daripada jadi pemain. Penonton bisa nggoblok-goblokin pemain dengan segala teorinya. Inti soalnya adalah, apakah para penonton itu bisa melakukan apa yang diinginkannya ketika diminta untuk bermain? Seperti tulisan Dimas, Bob Sadino punya teori. Ade Aan punya teori. Sekarang Bob seperti apa? Ade Aan seperti apa? He he he ... Bukan merendahkan. Jangan telah mentah-mentah teori orang lain. Teori Bob Sadino harus dikunyah dulu. terorinya pak Ade Aan juga kudu dikunyah dulu. hasil kunyahan itu bakal jadi teori kita. Mari kita buktikan, dan patenkan teori kita masing-masing. Buktikan bahwa 40 tahun lagi, Bob Sadino bukan apa-apa dibanding kita. Dan itu yang Oom harapkan. Beyond Bob ...

Ade Aan Wirama mengatakan...

@Bang Jay: hehehehe..tks untuk mengingatkan bahwa setiap orang memiliki teori dan cara tersendiri untuk mencapai tujuan, karena pada intinya yang harus kita lakukan adalah menyadari apa kekuatan kita dan apa kelemahan kita.

Itu saya sepakati betul, oleh sebab itu saya tidak mau sembarangan untuk menganjurkan seseorang untuk DO (walaupun misalnya saya bisa sukses dengan DO atau TANPA RENCANA), karena belum tentu orang itu memiliki kekuatan yang sama dengan kita.

Dan saya sepakat bahwa menjadi penonton itu paling gampang memberikan saran atau nggoblok2in orang (contohnya yang nonton bola atau main catur). Dan itu juga yang membuat saya nggak berani nggoblok2in orang kalo melakukan hal yang berbeda dengan saya dalam menjalankan bisnis.

Dan saya sangat-sangat setuju bahwa Bob Sadino sudah tergolong sukses, sedangkan yang namanya Ade Aan ini belum lah apa2 dibandingkan Bill Gates, Steve Jobs, Bob Sadino, Sandiaga Uno atau bahkan Bang Jay sendiri, tapi...bukan berarti kemudian saya tidak bisa bersikap kritis tho terhadap teori2 yang dijalankan mereka2 diatas ? dan saya juga ingin mengajak setiap orang untuk bersikap kritis agar tidak menelan mentah2 apa yang diucapkan atau disampaikan Bob Sadino maupun Bang Jay atau siapapun itu (termasuk saya tentunya). Mari kita berpikir jernih, berhati2 walaupun yang namanya ACTION tetap harus dijalankan.

Yang dibawah ini saya super super sepakat :

"Teori Bob Sadino harus dikunyah dulu. terorinya pak Ade Aan juga kudu dikunyah dulu. hasil kunyahan itu bakal jadi teori kita. Mari kita buktikan, dan patenkan teori kita masing-masing. Buktikan bahwa 40 tahun lagi, Bob Sadino bukan apa-apa dibanding kita. Dan itu yang Oom harapkan. Beyond Bob ..."

ACTION PENTING, TAPI SMART ACTION LEBIH PENTING.

Best Regards,
Ade Aan Wirama
www.adeaan.com
www.jsoftindonesia.com

ian mengatakan...

Saya kira itu tindakan yang nekad. Perlu disurvey dulu, dari yang bependidikan berapa orang yang sukses dan dari yang tidak berpendidikan berapa orang yang sukses. Lebih banyak yang mana? Menurut saya, yang tidak berpendidikan bisa sukses, karena biasa mereka langsung "bergerak" / action tanpa mikir panjang. Kadang dalam bisnis diperlukan itu. Kalau terlalu banyak mikir kapan bisa mulainya. Keadaan terdesak juga bisa bikin sukses. Dan terdesak ini dimiliki oleh orang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Intinya coba dilakukan survey tingkat pendidikan dengan kesuksesan. Satu lagi orang jaman dulu lebih gampang berbisnis, karena dulu persaingan masih mudah. Kalau Bill Gates hidup dijaman sekarang, apakah dia mampu membuat tandingan Microsoft? Kalau Om Bob lahir dijaman sekarang apakah bisnisnya akan sesukses sekarang dengan kondisi pribadi yang sama seperti dulu. Kemajuan informasi sangat luar biasa sekarang dengan adanya media cetak dan internet, sehingga menimbulkan persaingan yang luar biasa. Tapi tentu saja masih ada kemungkinan yang tidak berpendidikan bisa sukses.

yudhyani mengatakan...

Setelah membaca dan berusaha mencerna, menurut saya ucapan om bob bertujuan agar sepupu mas adzan tidak terjebak dalam pemikiran bahwa dia adalah mahasiswa DO selamanya (soalnya saya pernah membaca artikel lain kalau om bob mendorong orang untuk berpendidikan tinggi).

Jebakan pemikiran ini yang akan menghambat langkah sepupu anda (mengurangi kepercayaan diri).

Bayangkan saja jika kita menjadi sepupu mas Adzan dan terjebak dalam pemikiran kita sendiri, setiap kali bertemu dengan orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi pasti minder, kan?

Siapa saja yang pernah berkuliah (DO/Lulus) pasti punya cara berpikir dan wawasan yang berbeda dengan anak smu. Apa yang diberikan waktu kuliah bertujuan untuk membentuk pola pikir kita tidak hanya menambah pengetahuan. Banyak kenalan saya yang kuliah sampai s2 ato s3 tetapi punya pola pikir, yang saya sebut, picik. Mungkin karena sewaktu berkuliah mereka hanya beranggapan bahwa ilmu yang paling benar adalah yang didapatkan di bangku kuliah.

Kita tidak bisa memandang orang yang kuliah pasti lebih berhasil daripada yang tidak/tidak lulus kuliah. Kebijaksanaan dan pengalaman lebih banyak didapatkan di luar perkuliahan.

Membuat perencanaan itu penting tapi jangan sampai rencana itu mengekang kita sendiri, soalnya masa depan itu penuh dengan ketidakpastian.

Berencana --> Tawakal --> Bertindak --> Berbagi

Jangan pikirkan apa/berapa yang bakal kita dapatkan (itu diluar kemampuan kita) lalu lakukan yang terbaik yang kita bisa. Anak & Istri kita mempunyai rejeki masing-masing tinggal bagaimana kita membuka jalan buat rejeki itu.

So, mulai bertindak dan mulai berbagi. Jangan pernah berhenti untuk belajar dari siapapun.
InsyaALLAH KEBUTUHAN kita akan terpenuhi.

Salam buat sepupu anda Mas Adzan dan salam kenal buat semua yang sudah komen.

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

weleh2 banyak sekali jadi pusing

@om benny
wong gombong, wong banyumas harus sukses pak!

@agus mupla and rinaldi
thx atas supportnya

@dimas n bos fico
u got d point hehe

@indra
setuju oom... saya ga mihak om bob bulet2 kok.. cuma saya seneng cara blio reframing. bikin kontroversi biar kepala kita pusing

@om zainal
wah dedengkot turun

@ian
ga perlu disurvey pak..
dari 100 orang yg pernah coba bisnis, hampir 98 persen gagal hehehe..
soalnya imho ga ada relevansi nya antara sekolah dan bisnis

@yudhyani
wah empati skali tulisannya mbak/mas :)
makasi yaaa

Ms Cozy mengatakan...

Ok..Saya setuju kalau dibilang Knowledge (baca=pendidikan) is nothing without action.
Karena tanpa action mana mungkin ada experience terutama dalam membangun bisnis.
Tapi Knowledge is useless, enggak juga ya ...
Buktinya 70% dari 20 orang pengusaha sukses USA yang disurvey menyatakan menyesal tidak mengenyam pendidikan formal yang layak.
Menurut saya , meski tidak mutlak, tapi pendidikan tetap punya andil buat masa depan seseorang.
Buktinya juga, Owner tempat kerja saya sekarang adalah seorang lulusan S2 dari Boston, tapi sukses mengelola bisnis Food and Beverages.
Yang benar, semuanya kembali lagi ke tekad setiap individu.
Mampu ga dia bangkit dari kegagalan, menghadapi penolakan, atau menyikapi keberhasilan itu sendiri dengan bijak ?

Yuli Rosiana mengatakan...

Saya termasuk orang yang DO
Dulu saya DO selain karena materi (beruntung, orang tua saya miskin sehingga saya bisa lebih "melek" terhadap kehidupan), juga karena idealisme karena saya merasa saya tidak mendapatkan ilmu yang seperti kebutuhan dan keinginan saya.

Saat ini saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan Oil&Gas, awalnya sebagai tenaga IT.
Memang sempat diguncang dan jadi sorotan audit. Bagaimana saya yang secara notabene hanya mengantongi ijasah SMA, tapi ditempatkan sebagai IT support.
Tapi tidak mentok disitu, saya sempat merasa "diperjuangkan" untuk tetap bekerja di perusahaan ini.

Jadi ini bukan semata karena ijasah saya kan??
Ijasah hanya dibutuhkan untuk orang yang berpikiran karir semata. Sementara saya, secara tidak sadar, dari dulu ternyata telah menempuh jalan untuk menjadi bukan karyawan (Insya Allah boleh dibaca: enterpreneur - Amin... -).
Yang terpenting adalah pendidikannya, bukan ijasahnya. Lebih penting soulnya ketimbang fisik semata.

Peace...

E-book Indonesia mengatakan...

Saatnya berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama peminat enterpreneurship, silakan download buku ini secara CUMA-CUMA:

http://www.ziddu.com/download/4441113/FaifYusuf-RahasiaJadiEnterpreneurMuda.rar.html

rumahidamanku mengatakan...

Saya tidak membaca semua comment tapi saya bisa menarik kesimpulan bahwasanya ada yang setuju dan tidak setuju. Saya tidak akan bicara soal teori dan saya tidak menceritakan orang lain, saya cerita tentang perjalanan hidup saya sendiri. Walaupun saya belum berhasil seperti Om Bob, tapi saya sudah buktikan memulai usaha tanpa modal dan tanpa rencana yang bertele-tele. Modal saya cuma nekad padahal saya sudah punya istri dan anak yang harus saya kasih makan. Rencana tanpa action tentu nihil, tapi dengan action anda pasti ada hasil, hasilnya bisa terpuruk bisa berhasil. Saya memahami ketakutan sebagian besar orang untuk mencoba. Semoga yang sekarang masih takut untuk mencoba bisa menghilangkan rasa takut itu.