Selasa, 04 September 2007

10 hal yang mengiringi keburukan

Salah satu agenda tim alpha adalah rapat koordinasi setiap hari senin dan kamis (bisa sampe pagi nih rapat hiks..)

Nah, salah satu budaya tim alpha sebelum memulai rapat adalah, masing-masing anggota memberikan nasihat kepada anggota yang lain. Bisa berupa nasihat agama, bisa juga nasihat bisnis. Pokoknya intinya sampaikan walau satu ayat.

Baru setelah masing-masing memberikan nasihat, masing-masing anggota tim menjabarkan ide-idenya secara bebas dalam rangka meningkatkan margin tim alpha secara umum. Setelah di kumpulkan idenya dan di kritisi, baru deh kita mulai rapat...

Rapat tadi malam agak beda. Kebetulan seharian saya kelelahan survey mencari lokasi futsal. Jadinya tidak mempersiapkan nasihat yang akan saya berikan. Jadi ya saya baca buku aja buat dibacakan. Buku itu penulisnya langsung Ibnul Jauzy judulnya lautan air mata. Kebetulan akhir-akhir ini saya kok sering lalai.. jadi kayaknya perlu nih ngeluarin air mata..

Saya kutipkan dari buku tersebut...
"Saudaraku, sampai kapankah kamu menunda-nunda amalan? Sampai kapankah kamu menambah impian? Sampai kapankah kamu terpedaya oleh kesempatan yang diberikan? Sampai kapankah kamu tidak mengingat datangnya kematian? Semua hasil usahamu hanyalah untuk tanah. Apa yang dibangun semua akan hancur, segala yang kamu kumpulkan akan pergi dan seluruh amalanmu akan tertulis dalam satu kitab yang disiapkan untuk hari perhitungan...."

"...karena sesungguhnya keburukan, meskipun hanya satu tetapi mengiringinya 10 macam hal yang tercela...
Pertama, bila seseorang melakukan dosa berarti ia telah membuat Allah SWT murka sedang Allah Maha Berkuasa atasnya...
Kedua, ia telah menjadikan iblis bersuka ria...
Ketiga, ia telah menjauh dari surga...
Keempat, ia telah mendekat ke neraka...
Kelima, ia telah menyakiti sesuatu yang paling ia cintai, yaitu dirinya...
Keenam, ia telah mengotori jiwanya yang sebelumnya suci...
Ketujuh, ia telah menyakiti malaikat yang mengawasinya...
Kedelapan, ia telah membuat Nabi SAW bersedih didalam kuburnya...
Kesembilan, ia telah mempersaksikan langit dan bumi atas kemaksiatannya...
Kesepuluh, ia telah mengkhianati semua manusia serta Tuhan semesta alam...."

Astaghfirullahaladzim... saya pun tak kuasa melanjutkan bacaan.. tak terasa juga pipi membasah.. makin terasa bahwa diri ini hina dan lemah di hadapan-Nya.. Rabbana..zhalamna anfusana... Ya Allah ampuni dosa-dosa hamba...

Lebih ga nyangka lagi ketika saudara saya anggota tim alpha, menangis dengan terisaknya disebelah.. Ya Allah, padahal dosanya lebih banyak saya, mengapa bisa reaksi saya biasa saja... memang disini kualitas iman yang berbicara, ketakutan saudara saya kepada Allah JAUH melebihi saya...

Lebih teduh lagi ketika saudara saya yang satu lagi menentramkan hati dan mengingatkan bahwa tangisan karena takut Allah dapat memadamkan api neraka.. amiin ya Allah..

Luar biasa... kurang apalagi saya ketika dianugrahkan Allah dua sahabat seperti mereka. Ded, dim, ane cinta kalian karena Allah. Semoga kita bisa menjadi saudara di dunia dan di akherat. Alhamdulillah ya Allah saya dipertemukan dengan mereka...

Allahuma innaka ta'lam anna haazihil qulub.
Fawatstsiq Allahuma rabithataha...

Yang Muda Yang Wirausaha, Gimana mulainya?

Dalam beberapa kesempatan seringkali saya ditanya tentang bagaimana cara memulai usaha. Atau diminta tips gimana caranya biar bisa menikmati financial freedom.. reaksi pertama saya, lho.. apa pantes saya ditanya beginian? saya masih jauh dari standar kelayakan orang berkategori sukses.. tapi ya apa mau dikata, karena maksa ya akhirnya saya cuma share pengalaman aja.

Masalah Luck
A
da yang berpendapat bahwa sukses atau tidak sukses adalah karena faktor luck atau keberuntungan. Saya sendiri tidak sepenuhnya setuju tapi juga tidak sepenuhnya menolak. Bagi saya Sukses itu adalah keberuntungan untuk orang-orang yang berikhtiar/berusaha. Sama seperti dahulu kita mengikuti ujian negara (umptn/sipenmaru/spmb), orang-orang yang lulus pada saat itu adalah orang-orang yang belajar dengan giat ditambah sedikit keberuntungan. Ingat, penekanannya adalah belajar dengan giat. Jadi intinya, kita boleh berharap faktor keberuntungan hanya ketika kita sudah berusaha/ikhtiar.


Apapun bisa kita jual!
P
ernah ada pertemuan para marketer-marketer handal di seluruh dunia. Kemudian salah satu yang terhebat menjadi pembicara ditengah-tengah mereka. Orang itu berkata, "saya akan memberikan pertanyaan yang jika ada salah satu diantara kalian bisa menjawab, maka saya akui bahwa anda lebih hebat dari saya". Hingga satu minggu lebih pertanyaan nya tidak bisa terjawab, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun tidak akan ada yang sanggup menjawabnya. Pertanyaan yang simple, "Coba cari satu barang yang tidak bisa dijual!"......

C
erita diatas hanya ingin menggambarkan bahwa apapun bisa kita jual. Namun masih banyak pendekatan lain agar yang kita jual itu menghasilkan manfaat atau hasil yang lebih..


Awali dari Mimpi...
S
emua berawal dari mimpi. Pastikan bahwa kita memahami motivasi kita memilih jalan menjadi pengusaha. Apakah sekedar ikut-ikutan, atau memang pilihan hidup


Mulai dari yang kita suka dan kita tahu
Kata orang, jika ingin memenangkan pertarungan kita harus mengenali diri dan lawan. Soalnya namanya usaha, apalagi masih merintis, pasti banyakan duka-nya daripada suka-nya. Beda kalau kita memang suka. Misalkan hobi saya adalah ikan hias, maka dulu saya memulainya dari ikan hias. Enaknya bisnis yang disambi oleh hobi adalah ketika omzet atau penjualan sedang menurun (bahkan merugi) kita masih bisa bertahan dan hanya menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari "perjuangan". Penekanannya adalah kita dengan mudah masih bisa bertahan...


Cermati Pasar!

Istiliah lain dari pengusaha adalah pedagang, atau penjual. Ingat, penjual bukan pembeli. Memang dalam prosesnya, kita pun membeli barang dari supplyer untuk kemudian dijual. Tapi kenapa kita disebut penjual?? sangat mudah! karena untuk menjual itu jauh lebih besar perannya dari sekedar membeli. saya permudah, jika kita jual sesuatu, pastikan ada yang beli! kalo bahasa ekonomi nya pastikan ada demand. Lebih baik lagi jika kita memilih bisnis yang tren-nya cenderung mengalamai penaikan, bukan penurunan. Lebih sempurna lagi jika kita bisa memastikan bahwa ada yang mau berlangganan dengan kita.


Bunuh Rasa Malu

Tentu saja rasa malu yang positif. Selalu ingat prinsip, bahwa kita hanya malu ketika melakukan perbuatan yang melanggar aturan agama. Yang malu itu harusnya para pejabat korup, bukan para penjual bakso keliling. Yang malu itu harusnya yang nilep BLBI, bukan pedagang asongan atau pemungut sampah. mindset seperti ini yang harus kita bentuk.

kembali ke peran kita sebagai penjual. Menjual adalah hal paling penting dalam berbisnis. Maka dari itu, hapus rasa malu kita untuk menjual produk kita sebanyak-banyaknya. Kalau perlu kita turun langsung sebagai tenaga penjualan. Misalnya, kita mau buka warnet, ya ga usah malu kita latihan jadi operator warnet. Kita bikin pabrik makanan ikan, ga usah malau nawarin produk ke toko-toko atau farm ikan yang ada. Kita bikin konveksi, ya ga usah malu nawarin baju-baju kita ke tetangga.

P
ada poin ini lah saya sering menemukan teman-teman saya yang "berguguran" karena memiliki mindset yang salah tentang rasa malu...


Racik Strategi yang Apik
B
aru deh kita bahas strategi. Misalnya strategi marketing. Inget kata pak Hermawan Kertajaya bahwa strategi marketing pada intinya cuma tiga, positioning, product differentiation, branding. Hehehe... cari-cari sendiri deh buat yang ga tau istilah diatas. Setelah itu bikin business plan, dan inget, untuk yang baru mulai usaha, jangan menggunakan modal yang berasal dari utang. Jual aja semua yang kita punya, nah mulai dari yang ada. Jangan lupa untuk coaching. Ga mesti bayar kok, bisa aja kita cari figur yang kita anggap lebih berpengalaman untuk tempat kita konsultasi. Kan lumayan bisa gratis hehehhe.. jangan lupa juga ikut komunitas-komunitas yang berhubungan dengan bisnis kita. Berguna banget tuh.


Just Action!
M
ulailah! nah di poin ini juga banyak sekali teman-teman saya yang berguguran. Banyak yang berani berencana tapi tidak cukup berani untuk memulai. Untuk mengobati penyakit ini gampang saja.. Coba aja kita buat mimpi-mimpi hidup kita 5 tahun, 10 tahun, bahkan hingga 30 tahun kedepan. Jabarkan lebih detail! dan kita akan semakin paham, semakin kita menunda, semakin lama pula mimpi-mimpi itu tiba. so, just start it!


Terakhir : Kontrol dan Maintain!
J
angan terlena. Biasanya ada istilah keberuntungan pemula. Omzet diawal bisa saja drastis. Tapi jangan lupa ciptakan sistem kontrol yang baik. Poin ini lah yang membedakan antara pengusaha yang langgeng, dengan pengusaha yang ikut-ikutan. Banyak juga yang berguguran disini. Jangan lupa juga untuk terus konsultasi dengan orang yang kita anggap tahu.



Mungkin demikian hal yang bisa saya share, semoga tulisan ini bermanfaat, dan bisa lahir pengusaha-pengusaha baru di Indonesia sehingga bisa membawa bangsa ini dari keterpurukan amiin



Sabtu, 01 September 2007

Kalo bisa cashflow yang positif, ngapain jg milih negatif !

Mau buka bisnis/usaha? tapi tiap bulan nombok? wah, jadi kita yang membesarkan usaha donk! padahal kan harusnya usaha yang membesarkan kita tul gak...

Robert Kiyosaki pernah mengatakan bahwa financial freedom bisa diraih ketika passive income (inget, sekali lagi passive income, bukan sekedar income apalagi cuma salary) melebihi expenses. Ingat, tekanan nya jelas, passive income! bukan asset, apalagi liability, apalagi gengsi, prestise, nafsu dan lain sebagainya..

Jadi ketika ada tawaran atau peluang bisnis datang, pastikan Feasibility Study yang mumpuni. Jangan asal nafsu. Ungkapan-ungkapan seperti
"Yang penting coba dulu, masalah untung rugi belakangan"
"Ah judulnya gue bisa punya toko di mall. Ini suatu prestasi buat gue. Ga peduli deh nih usaha untung apa ngga"
"Feeling gue sih kayaknya bakal rame nih. Rugi-rugi diawal gapapa. Nanti juga perlahan naik penjualannya"

Sekarang misalkan kita disuruh memilih, ada suatu bisnis yang jelas-jelas menguntungkan, dan ada bisnis lain yang belum pasti keuntungannya, bahkan malah sudah pasti rugi di awal-awal pembukaan. Kita harus obyektif, dan sedikit oportunis (ya namanya juga pengusaha). Inget, jangan pernah jatuh cinta dengan obyek bisnis, tapi jatuh cinta dengan transaksinya. Misalkan kita mendapat peluang buka toko di mall, jangan kita silau dengan mall nya, tapi cermati untung-rugi nya prospek nya dll. Jika ada peluang properti, jangan pernah jatuh cinta dengan bangunan nya, tapi dengan transaksinya. Transaksi haruslah menguntungkan.

Sekali lagi, jika ada peluang yang menawarkan cashflow/passive income yang positif, itu jelas lebih baik daripada yang negatif (ya iyalah...). Semudah itu, tapi banyak dari kita yang sering terkena perangkap.

Jujur, dulu ketika saya mendapat tawaran buka toko komputer di salah satu mall, saya silau sama obyek bisnis. Kapan lagi punya toko komputer di mall?

Akhirnya saya bayar tanda jadi, dan kemudian baru bikin business plan. Ternyata menurut perhitungan saya, bisnis ini akan merugi alias cashflow negatif karena mall tersebut masuk kategori sepi. Daripada terus merugi (baca:nombok) lebih baik kehilangan uang tanda jadi saya. Bener-bener ga seberapa dibanding uang yang harus saya suntik setiap bulan nantinya. Belum lagi tenaga dan pikiran yang saya korbankan...

Mending juga usaha yang walaupun cashflow kecil, tapi jelas-jelas dapat untung dibanding cashflow yang negatif tanpa ada kejelasan kapan menjadi positifnya. Sekali lagi, jangan jatuh cinta sama obyek bisnis melainkan dengan transaksinya.

Smoga berguna

Membandingkan Indonesia dengan Jepang

Sebagai seorang yang sangat menggemari sejarah, tentu kisah-kisah bangsa Jepang menjadi salah satu yang saya kagumi....

Dalam hati selalu berharap, di balik carut marutnya negeri ini, akan datang sebuah masa keemasan. Sama seperti carut marutnya Mekah sebelum datang kenabian, perang saudara di peradaban Cina hingga bersatunya daratan Tiongkok, hingga era Sengoku Jidai di Jepang yang ditutup oleh keberhasilan negeri matahari terbit ini di berbagai bidang.

Infrastruktur peradaban pun serba sama, kala itu Jepang adalah kumpulan dari berbagai kelompok/golongan yang sama-sama berambisi untuk menguasai Jepang. Kita mengenal clan Oda, Imagawa, Uesugi, Mori, Takeda, dll. Begitu juga bangsa ini yang terdiri dari berbagai kelompok/golongan.

Bahkan pada era Meiji, pendapat pun berbeda-beda antara kelompok pro status-quo dan kelompok reformis. Persis seperti era Indonesia sekarang ini, dimana kelompok status-quo masih ada dimana-mana, dan terus berusaha menancapkan pengaruhnya.

Pada saat itu, samurai-samurai yang berjiwa ksatria bermunculan. Samurai-samurai yang lebih mementingkan kepentingan bangsa, daripada urusan pribadi. Bahkan tak segan mengorbankan harta dan jiwanya demi kemaslahatan bangsa. Dan hebatnya, saat ini saya pun menyaksikan "samurai-samurai" versi Indonesia, yang pengorbanan nya tak kalah jauh dari Jepang era meiji. Dalam hal ini sesuai bidang saya tentunya, "samurai-samurai" pengusaha Indonesia.

Para samurai Indonesia itu berjibaku juga, mengurangi jam tidur, bekerja keras, fokus, dan ketika ditanya cita-citanya, bukan untuk dirinya sendiri melainkan dengan visi yang lebih jauh, untuk bangsa dan negaranya. Bahkan ada samurai Indonesia yang membuka unit usaha dan semua keuntungannya disumbangkan ke pendidikan. Luar biasa!! persis seperti di Era Meiji!

Kapankah kejayaan itu tiba untuk negeri tercinta ini?

Wah, saya agak kaget (campur rasa senang tentunya) ketika Chairul Tanjung bercita-cita agar di tahun 2030 Indonesia akan menjadi salah satu negara kuat. Tentu saja Chairul Tanjung tidak asal bicara, melainkan melalui perhitungan yang matang layaknya business plan :D
Bahkan beberapa teman pengusaha yang lain menyatakan keoptimisan yang sama, paling tidak 20 tahun lagi Indonesia menjadi negara nomor satu!! dahsyat!

pertanyaanya, siapkah kita?
apakah mental kita sudah layak menjadi nomor satu?

sekian

Rabu, 29 Agustus 2007

Saya dan tukang sate kikil

Salah satu hobi saya adalah kuliner.. Paling seneng jajan-jajan. Kalo lari pagi aja banyakan jajan-nya daripada larinya hehehehe......

Nah, salah satu kebiasaan saya kalo siang-siang itu beli sate kikil. Hebat nih si abang, saya perhatiin tiap hari dagangannya selalu abis. Sate nya emang enak, 1000 perak dapet 3 biji, dijualin pake gerobak keliling...
penasaran doonk sama omzetnya..........

berikut dialog saya
saya : "wah-wah, kayaknya selalu habis ya pak sate nya setiap hari"
tukang sate : "iya mas"
saya : "satu hari bisa dapet brapa Pak?
tukang sate : "ya kalo abis semua, 500ribu lah pak"
saya : (kaget!) "wah hebat bener ya pak.. padahal paling-paling modal kikil nya cuma 100ribu..."
tukang sate : "ooo...ngga mas.. kikil nya mahal. Ini modal kikilnya aja 200rebu. belum lagi tusukan sate sama bumbu nya.."

(dalam hati saya : tetep aja pak, paling tusukan sate sama bumbu ga sampe gocap, berarti bersihnya si bapak ini satu harinya 200-250rebu. Gile aja sebulan antara 6-7jt. Kalah deh fresh graduate hahahaha....)

Silakan petik dan tafsirkan sendiri hikmah dari cerita ini
Salam Funtastic!!

Hobi maen cashflow

Sudah tau game cashflow101? bagi yang belum tau, cashflow101 adalah game buatan Robert Kiyosaki. Cara memenangkan game ini mudah saja, cukup menambah passive income sebesar $50,000 atau dengan "membeli" mimpi kita selama ini.

Nah untuk bisa menang, kita diharuskan jadi orang kaya. Harus juga bersifat financial freedom. Harus masuk ke jalur fast track supaya bisa wujudin mimpi-mimpi kita, dan supaya menjadi super kaya.

Gimana caranya ke fast track? simple, passive income (passive income lho, bukan sekedar income, apalagi salary) harus melebihi expenses kita. Nah makanya biasain sisa penghasilan kita digunakan untuk investasi, untuk menambah passive income. Lebih jelas tentang game ini kunjungi www.cashflow101game.com

Nah kembali ke laptop, saya baru main game ini kurang lebih 1,5 tahun yang lalu. Pengalaman menarik, karena di debut pertama saya langsung mencetak kemanangan. Gak tanggung-tanggung yang saya kalahkan langsung sang juragan pulsa kita, Pak Masbukhin Pradhana (hehehe boleh donk bangga dikit walau menangnya cuma karena beruntung).

Beberapa bulan kemudian dapet wejangan dari guru, Pak Roni, yang mengatakan harus sesering mungkin memainkan game cashflow ini. Karena akan membentuk mindset kita katanya. Berbekal pesan beliau, akhirnya kita beli deh game ini, dan hampir main setiap hari kala itu.

Setiap semangat berwirausaha mengalami penurunan, bermain cashflow sangat efektif untuk mendongkrak semangat itu lagi. Tertarik dengan hal ini, rekan saya dari TDA, Pak Asep, menginginkan agar game ini dimainkan secara rutin di komunitas. Yo wis ngikut aja deh..

Saya sendiri sangat terbuka jika ada pembaca yang ingin bermain bersama kami. Feel free aja ok!
Salam Funtastic!

Rabu, 22 Agustus 2007

Cuma di TDA bisa begini (by pak jonru)

(*note: TDA = tangan di atas, istilah untuk orang yang telah menjadi pengusaha. Selain itu TDA adalah sebuah komunitas pengusaha. TDB = tangan dibawah, istilah untuk orang yang masih menjadi karyawan)

Cuma di TDA bisa begini

"Perkenalkan nama saya A. Saya sebenarnya masih TDB. Malu deh."

"Maaf, ya. Saya belum punya kartu nama TDA. Saya baru bisa memberikan
kartu nama TDB saya. Duh, malu banget rasanya."

Ucapan-ucapan seperti itu menjadi demikian akrab di telinga saya sejak
bergabung dengan TDA.

Baru di TDA-lah saya menemukan orang-orang yang merasa malu karena
ketahuan masih TDB. Padahal mereka mungkin bekerja di perusahaan
ternama, dan gajinya pun cukup besar.

Di tempat lain, kita justru sering melihat orang2 yang merasa bangga
dengan status mereka sebagai karyawan.

"Saya bekerja di Telkom," ujar mereka dengan bangganya (silahkan ganti
kata Telkom ini dengan Astra, Bank Mandiri, atau nama-nama perusahaan
besar lainnya).

Apakah mereka ini bangga pada diri sendiri?

Menurut saya tidak! Dengan mengucapkan kalimat seperti itu, mereka
justru sedang membanggakan perusuhaan tempat mereka bekerja.

Tanpa sadar, mereka juga sebenarnya sedang merendahkan diri sendiri.
Sebab ucapan seperti itu lebih kurang bermakna, "Saya bukan siapa-siapa.
Perusahaan saya jauh lebih hebat daripada saya."

Baru di TDA-lah, saya menemukan orang-orang yang malu berstatus sebagai
karyawan.

Dan rasa malu ini merupakan sesuatu yang sangat baik. Sebab di balik
rasa malu itu pasti tersimpan sebuah motivasi, "Saya harus SEGERA
menjadi TDA!"

Setuju?

Wassalam

Jonru
http://www.jonru.net