Minggu, 19 Oktober 2008

Belajar bisnis dari Thalhah, Sang syahid yang hidup (3)

“Nenek moyang kami juga melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Beberapa orang dari mereka diutus untuk belajar ke negeri Cina. Negeri ini terkenal dengan produksi bahan pakaian yang bermutu tinggi. Ada katun, ada juga yang disebut sutera. Para utusan itu belajar membuat pakaian disana."

"Setelah merasa mahir, seluruhnya kembali kesini dengan membawa banyak bahan pakaian dari Cina. Disini mereka menjahitnya menjadi pakaian yang biasa dikenakan oleh orang-orang di negeri ini. Sampai kini kami membeli berbagai jenis bahan pakaian dari Cina. Disini kami mengolahnya menjadi pakaian yang siap pakai. Sudah menjadi budaya kami untuk saling bekerjasama."

"Orang-orang yang sudah pandai menjahit, mengajarkan keterampilannya kepada yang belum bisa. Sampai akhirnya hampir semua penduduk negeri ini pandai menjahit. Kualitas jahitan yang dihasilkan sangat baik. Pakaian hasil produksi negeri ini sangat diminati pembeli dari berbagai negeri. Dan kami anak-cucunya, bisa hidup seperti ini dengan bekal keterampilan menjahir pakaian yang diwariskan oleh nenek moyang kami,” kata Morsan mengakhiri ceritanya.

“Menarik sekali cerita bapak. Di Makkah, negeri kami, harga pakaian asal negeri Bushra memang lebih tinggi daripada pakaian yang berasal dari negeri-negeri lain. Kualitasnya tidak terkalahkan. Selain terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, teknik penjahitannya pun menghasilkan pakaian yang tahan lama. Dimana saya bisa membeli pakaian yang dibuat penduduk Bushra dengan harga yang paling murah ?” tanya Thalhah.

“Di negeri ini, pembagian tugas sudah berjalan dengan baik sekali. Ada orang yang pekerjaannya sebagai penjual bahan pakaian yang dibawa dari Cina. Ada juga orang yang bekerja sebagai penjahit. Hasil jahitan mereka dijual kepada pengumpul. Tujuan pembagian tugas itu adalah untuk mempertahankan harga. Tidak ada banting-bantingan harga. Setiap pekerjaan memberikan keuntungan yang setara dengan pekerjaan yang dilakukan. Kebetulan ayahku bertugas sebagai pengumpul. Kau bisa berbelanja pakaian padanya,” jawab Morsan.

“Jika kau berminat, kau bisa ikut bersamaku sekarang,” lanjut Morsan.

“Baiklah. Kali ini, minumanmu aku yang bayar,” kata Thalhah sambil mengeluarkan sejumlah uang receh dan memberikannya kepada pemilik warung.

“Mari kita berangkat,” ajak Morsan.

Tak lama kemudian, keduanya pun sampai di rumah orang tua Morsan. Betapa takjubnya Thalhah. Ia melihat tumpukan pakaian jadi berkualitas tinggi yang sudah siap dibawa ke berbagai negeri. Pakaian seperti itu, biasanya dijumpainya di Syam. Ia lebih takjub lagi karena harga pakaian-pakaian itu sangat murah. Jauh lebih murah daripada ketika ia membelinya di Syam.

“Sayang sekali aku tidak membawa uang dalam jumlah banyak. Tapi aku punya keyakinan bahwa barang-barang seperti ini akan laku di Makkah. Aku ingin membeli pakaian-pakaian ini sebanyak seratus potong,” kata Thalhah.

“Baiklah. Silahkan pilih barang yang ingin kau beli. Setelah itu kau bisa ke ayahku untuk mengetahui jumlah harganya,” kata Morsan. Thalhah pun memilih pakaian yang ingin dibelinya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali ke penginapan dengan membawa sejumlah barang yang sudah dibungkus rapi. Morsan membantunya membawakan sebagian barang bawaannya.

Dan itu adalah tonggak kejayaan imperium dagang Thalhah bin Ubaidillah. Setelah kembali ke Makkah, ia menjual seluruh barang bawaannya. Benar dugaannya. Semuanya cepat laku dengan harga yang cukup tinggi. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli bahan makanan, dan segera dibawanya ke Bushra. Hanya itu yang dilakukannya selama tiga bulan ini.

Pada awalnya ia hanya membawa tiga ekor unta dan dua orang budak, tetapi setelah tiga bulan, armada dagangnya sudah bertambah banyak. Jumlah untanya sudah sepuluh ekor. Ia pun dibantu oleh lima orang budak. Selama tiga bulan itu, ia tidak pernah kembali ke Makkah. Hanya para budak dan unta-untanya lah yang bolak-balik Makkah – Bushra membawa barang dagangan. Dan kerinduan pada kampung halaman pun semakin memuncak.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Terimakasih atas informasinya. Informasi ini sangat membantu kami.
Blog ini memang sangat luar biasa. Dan Salam kenal dari: Ruby's Weblog

Anonim mengatakan...

tulisannya cukup inspiratif..sukron mas

Unknown mengatakan...

Promosikan artikel anda di www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
http://karir-pekerjaan.infogue.com/belajar_bisnis_dari_thalhah_sang_syahid_yang_hidup_3_