Sabtu, 08 September 2007

Legenda Hidupku... Almarhum Bapak-ku....

"Pak, tolong donk jangan ngerokok lagi...ngeganggu banget nih asapnya..."
Orang tua itu hanya diam dan termenung.. keesokan harinya ia menyapa sang anak..
"Nak, mulai hari ini bapak ga akan ngerokok lagi. Karena itu, bapak juga akan ga suka kalau nanti bapak lihat kamu ngerokok.."

Dialog diatas adalah kisah nyata seorang ayah perokok berusia 50 tahun (satu hari bisa habis 2 bungkus rokok) dengan seorang putranya yang baru saja memasuki sekolah dasar.. Ya, Orang tua itu adalah ayahku sendiri.. Yang pada hari itu benar-benar berhenti merokok demi memberikan teladan kepada anak-anaknya...

Dahulu ayahku adalah seorang tentara, terkena wajib militer sehingga harus meninggalkan bangku SMA. Dikenal sebagai pribadi yang jujur, ikhlas mengabdi untuk bangsa dan negaranya. Berbagai peperangan diikuti, salah satu yang sering diceritakan adalah ketika pembebasan East Timor. Walau agak canggung dalam mendidik anak, namun prinsipnya tidak pernah mengenal kata canggung untuk tetap amanah... Ya, salah satu bukti amanahnya adalah ketika ayahku yang gagah itu menolak untuk menyuap demi kenaikan pangkat. Alhasil lebih dari 3 kali secara beruntun tidak naik pangkatnya, dan memutuskan untuk pensiun dini.

Menanamkan nilai-nilai kejujuran serta etika adalah hal yang paling ditekankan kepada anak-anaknya. Salah satu nasihat yang paling berkesan adalah ketika ayahku berkata, "Nak, jangan pernah anggap remeh orang, walau pekerjaan hina sekalipun, pasti ada hal yang kita bisa belajar darinya..."

Memang ayahku lemah dalam mengkader anak-anaknya, namun semata-mata karena ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Bahkan pernah ketika pembantu kami pulang kampung, pagi-pagi ayahku sudah membersihkan lantai... ayahku yang gagah sama sekali tidak mau menyerahkan pekerjaan nya itu kepada aku ketika aku memintanya. Ia bahkan masih rela mengantarku kuliah di hari saat ia harus berangkat haji...

Dahulu, setiap datang waktu shalat aku selalu diingatkannya untuk menyegerakan. Suatu waktu aku masih tertidur dan dibangunkan dengan suara yang keras untuk shalat, karena merasa terganggu akhirnya lidah terucap "Pak, emang bapak ga bakal marah gitu kalo pas tidur dibangunin juga dengan suara keras kayak gitu untuk shalat..."
ayahku yang gagah menjawab, "Ga akan Nak, Bapak malah akan berterima kasih karena Bapak bisa shalat tepat waktu karena kamu bangunkan..."
Karena penasaran, aku pun mencobanya.... dan terbukti... perbuatanku membangunkannya dengan suara agak keras (mungkin beberapa orang menilai sikapku kurang ajar) tidak berhasil membuatnya marah.. ia justru bergegas mengambil wudhu-nya...

Salah satu kebiasaan ayahku adalah menangis... tidak di dalam kendaraan, atau sambil berjalan, atau dalam sujudnya, atau dalam doanya... seringkali ia menangis.. menangisi kematian yang akan mendekatinya.. dan teringat akan orang tuanya yang sudah mendahuluinya..

Tujuh tahun terakhir, ayahku lebih giat mendalami agamanya.. Ia pun lebih kritis dan prihatin atas kondisi yang ada sekarang. Berbagai pengajian dan halaqah diikutinya. Alhamdulillah, pemahaman keagamaannya semakin hari semakin dalam...

Momen paling mengharukan adalah ketika aku menganjurkan agar orangtuaku tidak lagi menjual rokok di warungnya. Mohon maaf, kami sekeluarga termasuk yang berpandangan bahwa rokok itu hukumnya haram. Aku pun menunggu waktu yang tepat ketika mengusulkan hal ini.. seiring pemahaman agama orangtua yang semakin baik, 3 tahun adalah waktu yang cukup untuk usulan ini..
pernyataanku kala itu, "Pak, Bu, selama kita sudah yakin bahwa rokok itu diharamkan, maka menjualnya pun menjadi haram. Hujjah apalagi yang akan bapak dan ibu gunakan?"
lagi-lagi orangtuaku hanya terdiam dan tertegun, dan tidak lama, rokok pun hilang dari daftar barang dagangan mereka. Omzet turun drastis, nyaris 80persen..
tapi apa kata-kata yang keluar dari lisan calon penghuni surga..."Nak, rejeki Allah tidak akan terputus dengan berhenti menjual rokok.."

Setelah itu, ayahku yang gagah sangat serius mencoba mengikuti sunnah nabinya. Shalat lima waktu nyaris selalu di masjid. Di sela-sela menjaga warung diisi dengan tilawah quran nya. Sadaqah nya nyaris tidak terlihat tangan kirinya. Senin dan kamis hampir selalu diisi dengan shaumnya. Shalat malam pun teriring dengan tangisannya.. Tanda hitam di keningnya seolah menjadi bukti kedekatannya dengan "Kekasih"nya..

Kenanganku setahun yang lalu, adalah ketika aku pulang bekerja tengah malam, aku langsung tertidur di depan televisi. Tiba-tiba aku terbangun dan melihat ayahku sedang membalurkan lotion anti nyamuk di sekujur badanku. Sadar aku terbangun beliau berkata, "Nak, kamu jangan lupa untuk membaluri ini supaya ga digigit nyamuk.." aku pun sengaja mendiami dan menyaksikan ayahku yang sedang asyik membaluri kaki dan tanganku, menikmati ikatan cinta
antara seorang ayah dan anaknya.. pada saat itu aku hanya ingin berkata, "Pak, sungguh aku sayang bapak..." tapi ga tau kenapa lidah ini membisu dan tertahan...

Ramadhan di tahun 2006 adalah hal yang tidak terlupakan..
7 hari menjelang lebaran...
aku terbangun ditengah malam, jantungku berdebar cepat.. sekitar jam 1 pagi aku menghubungi temanku... aku menangis... saat itu aku berkata kepadanya bahwa aku merasakan sesuatu... aku merasakan dalam waktu dekat aku akan menerima sebuah amanah yang besar... tapi aku sendiri tidak tahu amanah seperti apa... saat itu aku menangis dengan sangat dalam dan terisak...

4 hari menjelang lebaran....
Ibuku berkata "Loh ada apa Pak, kenapa semua celana dipotong?"
Ayah menjawab "Hadits nya sudah jelas Bu, mata kaki harus terlihat ketika shalat"
"Tapi kan ga semuanya harus digunting seperti itu pak, sisa-in lah barang satu potong untuk acara-acara resmi" jawab ibu
Saat itu ayah cuma tersenyum dan terus melanjutkan kegiatannya memotong celana.
"Bu, aku lupa kalau besok aku harus memberikan laporan keuangan masjid kepada para pengurus.."

3 hari menjelang lebaran...
Pada pagi harinya, Bapak sedang menikmati memotong kentang untuk lebaran sembari bercengkerama dengan keluarga dan tetangga. Menjelang Dzuhur Bapak pun asyik bermain dengan sang cucu... hingga tiba waktunya Dzuhur..
Ia segera ke masjid, dan menulis laporan keuangan di papan tulis masjid, menunaikan shalat berjamaah, sedikit bercengkerama dengan para sahabatnya dan kemudian pulang..
Tidak ada yang dapat menolak, ketika tiba dikamar, tiba-tiba ia terbatuk dan muntah.. kemudian ia pun tersungkur.. bahkan ketika ia dipapah menuju mobil ke rumah sakit, ia bersikeras supaya berjalan sendiri menuju mobil.. karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya termasuk menantu-menantunya..

kecupan terakhir akan terus kuingat.. saat itu aku meminta maaf atas semua dosa yang kuperbuat padanya.. ia pun menjawab dengan anggukan.. bergantian seluruh saudaraku memintakan maafnya termasuk ibuku....

Setelah itu ia mengerang kesakitan.. sempat terdengar beberapa kali ia mengucap "sakit perut..." "sakit perut...." kemudia Izrail pun menjemputnya...

Innalillahi wainna ilaihi rajiuun..
Bahkan ketika ajalnya datang, ayahku pun masih terlihat gagah...
Seolah Allah ingin menunjukan kepada kita begitu sayangnya Ia dengan ayahku dengan ucapan "sakit perut.." nya...
Ya, orang yang meninggal karena sakit perut termasuk syahid..
Ayahku tidak memiliki penyakit di perut, dan sangat sehat ketika Dzuhur, benar-benar Allah menunjukan KuasaNya sekaligus SayangNya dengan syahidnya...

Ayahku adalah seorang kepala keluarga sejati.. ia rela mengorbankan nyawa nya demi ibuku dan anak-anaknya. Kesetiaan, kejujuran, dan sifat amanahnya menjadi guru buatku.. Pak, Bu, sebenarnya guru nomor satu-ku adalah Bapak dan Ibu.. Saat ini aku benar-benar tersadar cinta dan sayang yang selama ini kalian curahkan.. Terima kasih ya Allah telah membuatku dilahirkan dari dua orangtua hebat ini...

Sebentar lagi ramadhan pun tiba.. Ramadhan pertamaku tanpa ayahku yang hebat.. Tidak ada lagi suara tangisan ayahku menjelang ramdhan.. tangisan rasa syukur karena diberikan kesempatan ramadhan.. tidak adalagi tangisan nya ketika takbiran.. tidak ada lagi tangisan nya ketika berpeluk dan memohon maaf kala memulai ramadhan dan saat lebaran... tidak ada lagi yang menemani ibuku saat tarawih di masjid.. Tidak ada lagi kehadirannya disaat pengajian. Ingin rasanya kukecup keningnya dan berkata bahwa aku cinta padanya...

Kini tempatnya menjadi lebih baik.. Allah telah menyiapkan surga untuknya. Pak, maafin Wahyu yang dengan maksiatnya membuat Bapak malu di kubur sana.. Semoga anak bapak yang satu ini dapat berkumpul dengan bapak di surga Allah nanti... Hidup ini tidak akan lama lagi, bagai anak panah yang meluncur pasti... dengan sekejap insya Allah kita dipertemukan kembali...

Ya Allah, berilah ayahku ketetapan..
lapangkan kuburnya..
sayangi ayahku sebagaimana ia menyayangiku di waktu kecil..

dari anak bapak yang tidak berhenti mencintai bapak......

4 komentar:

*Fajri Salim* mengatakan...

Assalamu"alaikum.Wr.Wb..Semoga mas adzan sekeluarga senantiasa dalam hidayah allah SWT. Sungguh saya sangat terharu membaca kisah nyata almarhum bapak mas adzan,sampai tak terasa airmata pun berlinang,saya jadi ingat bapak saya juga yang mirip, yang sekarang allhamdulillah masih diberi umur dan sedang giat2nya mendalami sunnah nabi dan sunnah salafusaleh...saya bisa mengambil pelajaran berharga dari kisahnya mas adzan untuk lebih berbakti pada orang tua (birriwalidain)..terimakasih mas adzan.
Salam silaturahmi dan persaudaraan.

Fajri Salim

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

waalaikumsalam wrwb..
barakallah, terima kasih atas doanya pak..
sebenernya saya lupa kasih pesan terakhir ditulisan saya, yaitu supaya yang masih beruntung memiliki ayah, agar bisa berbakti selama sisa hidupnya..
salam persaudaraan juga
waalikumsalam

Adi Prayitno mengatakan...

Ass. Wr. Wb.
Komentar ini saya buat setelah sekian kali membaca " Legenda Hidupku...." ini. Tidak tahu kenapa harus mengulang, yang ku tahu di dalamnya ada pelajaran yang berharga yang harus ditiru oleh Aku sebagai orang tua dari kedua anakku yang masih kecil tetapi memiliki mimpi besar yang sepenuhnya harus aku dukung.

Legenda Hidupku mengingatkan aku pada kasih sayang kedua orang tuaku, sebelum satu persatu meninggalkan kami anak-anaknya. 10 tahun lalu Ayah meninggalkan kami setelah 7 tahun lebih harus cuci darah, sedang Ibu tidak terasa sudah 4 tahun meninggalkan kami. (makin sedih deh aku, selanjutnya bisa dibaca di blogku.

yang ingin saya pesankan bagi yang orang tuanya masih ada, berbaktilah, berilah kasih sayang dan doakanlah mereka, dan bagi yang sudah meninggal jangan berhenti berbakti dengan mendoakannya. Hanya doa anak sholeh, ilmu bermanfaat dan amalnya yang akan menolongnya di Akhirat kelak.

Mari kita saling bergandeng tangan untuk saling menasehati satu sama lain agar jalan hidup kita Selamat di Jalan Alloh SWT.

Wass Wr Wb.
Adi Prayitno

Adzan W. Jatmiko mengatakan...

hiks... sedih juga baca kisahnya pak adi..
jadi tegoran jg nih buat saya, smg bisa jadi orangtua teladan nantinya..
alhamdulillah, teduh bgt denger nasihat dari pak fajri sama pak adi :)
jazakumullah